Daftar isi bacaan
Bayangkan seorang ibu muda yang semalaman terjaga karena bayinya demam dan rewel setelah imunisasi pagi tadi. Paha bayinya sedikit bengkak dan merah. Ia mulai ragu, "Apakah jadwal berikutnya sebaiknya tidak usah saja?" Di rumah sebelah, seorang ayah baru sadar anaknya sudah empat bulan terlambat imunisasi dan mengira semuanya harus diulang dari awal.
Kedua kekhawatiran ini sangat umum. Jawabannya lebih menenangkan daripada yang dibayangkan.
Reaksi yang wajar
Menurut IDAI, setelah imunisasi dapat muncul reaksi di bekas suntikan atau reaksi umum, tergantung jenis vaksinnya. Reaksi ini umumnya ringan, mudah diatasi orang tua, dan hilang dalam 1 sampai 2 hari. Kemenkes menyebut umumnya membaik setelah 3 sampai 4 hari. Contohnya:
- kemerahan, bengkak, gatal, atau nyeri di bekas suntikan;
- kadang benjolan kecil agak keras selama beberapa minggu, yang umumnya tidak perlu tindakan;
- demam dan rewel, misalnya setelah vaksin DPT;
- bisul kecil 2 sampai 6 minggu setelah BCG, yang dapat menjadi luka selama 2 sampai 4 bulan lalu sembuh dengan bekas luka;
- demam ringan atau ruam halus 5 sampai 12 hari setelah vaksin campak, yang berlangsung kurang dari 48 jam.
Merawat anak di rumah
Saran IDAI:
- beri minum lebih banyak, termasuk ASI;
- saat demam, kenakan pakaian tipis;
- kompres bekas suntikan yang nyeri;
- beri obat penurun panas bila perlu, dengan dosis sesuai berat badan yang dianjurkan petugas;
- anak boleh mandi atau cukup diseka dengan air hangat.
Kapan perlu ke dokter
Menurut IDAI, bawa anak ke dokter bila reaksinya berat atau menetap, atau bila orang tua merasa khawatir. Pada bekas BCG, periksakan bila cairannya bertambah banyak, lukanya makin besar, atau muncul pembengkakan kelenjar di ketiak.
Jangan salah paham
"Anak demam, berarti jadwal berikutnya harus dihentikan." Menurut IDAI, bila reaksinya ringan, imunisasi berikutnya tetap dilanjutkan sesuai jadwal. Bila reaksinya berat, bicarakan dengan dokter, karena menurut IDAI dosis berikutnya sebaiknya tidak dilanjutkan, atau untuk DTP diganti dengan vaksin DT.
"Supaya tidak demam, dosisnya dikurangi saja." IDAI menegaskan, mengurangi atau membagi dosis tidak dibenarkan, karena tidak mengurangi reaksi dan kekebalannya menjadi tidak memadai.
"Sudah diberi ASI, tidak perlu imunisasi." Kemenkes menegaskan ASI tidak menggantikan vaksin. Kemenkes juga menyatakan tidak ada bukti ilmiah kaitan imunisasi dengan autisme.
Jadwal terlewat? Lanjutkan, jangan ulang
Menurut IDAI, bila imunisasi seperti DPT atau polio terlambat, berapa pun lama keterlambatannya, jangan mengulang dari awal, cukup lanjutkan sesuai jadwal. Kemenkes juga menyediakan imunisasi kejar, termasuk pemberian lebih dari satu jenis vaksin dalam satu kunjungan. Kemenkes mencatat pada 2024 masih ada lebih dari 2,8 juta anak usia 1 sampai 3 tahun yang imunisasinya belum lengkap.
Sebelum imunisasi, beri tahu petugas bila anak
- pernah mengalami reaksi berat setelah imunisasi sebelumnya;
- alergi terhadap bahan vaksin;
- sedang mendapat pengobatan yang menurunkan daya tahan tubuh, seperti steroid atau kemoterapi;
- baru mendapat transfusi darah dalam 3 bulan terakhir.
Peran keluarga
Simpan buku imunisasi di tempat yang mudah ditemukan dan bawa setiap kali ke Posyandu atau Puskesmas. Bila ada jadwal yang terlewat, jangan menunggu jadwal berikutnya; datanglah secepatnya untuk melanjutkan.
Ingat 3 hal ini
- Demam ringan dan bengkak setelah imunisasi umumnya wajar dan hilang dalam beberapa hari.
- Reaksi berat, menetap, atau membuat khawatir perlu diperiksakan ke dokter.
- Imunisasi yang terlambat cukup dilanjutkan, tidak perlu diulang dari awal.
Bagikan bacaan ini kepada orang tua balita, kader Posyandu, dan keluarga yang ikut mengasuh anak.
Daftar Pustaka
- Ikatan Dokter Anak Indonesia. Penjelasan kepada orangtua mengenai imunisasi. 28 Agustus 2013.
- Ikatan Dokter Anak Indonesia. Tanya jawab kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI). 28 Agustus 2013.
- Ikatan Dokter Anak Indonesia. Melengkapi/mengejar imunisasi (bagian II). 30 Mei 2015.
- Kementerian Kesehatan RI. 10 mitos dan fakta tentang imunisasi yang perlu Anda ketahui. Ayo Sehat, 28 November 2024.
Sumber daring
- S1: Ikatan Dokter Anak Indonesia — Penjelasan kepada Orangtua Mengenai Imunisasi (28 August 2013)
- S2: Ikatan Dokter Anak Indonesia — Tanya Jawab Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) (28 August 2013)
- S3: Ikatan Dokter Anak Indonesia — Melengkapi/Mengejar Imunisasi (Bagian II) (30 May 2015)
- S4: Kementerian Kesehatan RI (Ayo Sehat) — 10 Mitos dan Fakta tentang Imunisasi yang Perlu Anda Ketahui (28 November 2024)
Materi edukasi umum. Informasi ini tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, atau pengobatan oleh tenaga kesehatan. Jika mengalami keadaan darurat, cari pertolongan langsung.
Ringkasan keselamatan
- Bawa anak ke dokter bila reaksi setelah imunisasi berat atau menetap, bila bekas suntikan BCG makin membesar dan cairannya bertambah, bila muncul pembengkakan kelenjar di ketiak, atau bila orang tua merasa khawatir.
Kenali koleksi dan sumber bacaan.
Koleksi Bacaan Cepat Dokter Erta. Naskah sumber diperbarui 7 Oktober 2026; diterbitkan di website Klinik Kiera pada 11 Oktober 2026. Daftar pustaka di atas mengikuti naskah sumber.
