Daftar isi bacaan
Bayangkan seorang anak kelas 2 SD yang dua hari ini lesu, tidak mau makan, dan mengeluh sakit saat menelan. Demamnya tidak tinggi, sehingga keluarganya mengira hanya radang tenggorokan biasa. Saat ibunya menyenter mulut anak itu, tampak lapisan putih keabuan di tenggorokan. Lehernya juga terlihat lebih bengkak dari biasanya.
Gambaran seperti ini perlu diwaspadai sebagai difteri, penyakit lama yang masih bisa muncul kembali di tempat yang imunisasinya tidak lengkap.
Apa itu difteri
Difteri disebabkan oleh bakteri yang menyerang saluran napas atas, dan lebih jarang menyerang kulit. Menurut WHO, bakteri ini menghasilkan racun yang dapat merusak jantung dan saraf. Penularannya lewat batuk dan bersin, kontak dekat dengan penderita, atau berbagi gelas, alat makan, pakaian, dan tempat tidur. WHO juga menyebut sebagian orang yang terinfeksi tidak sakit, tetapi tetap bisa menularkan.
Tanpa pengobatan yang memadai, WHO memperkirakan sekitar 30% penderita yang belum divaksin dapat meninggal, dengan risiko lebih tinggi pada anak di bawah 5 tahun.
Kenali gejalanya
Menurut WHO, gejala biasanya muncul 2 sampai 5 hari setelah tertular. IDAI menyebut gejala awalnya bisa tidak khas:
- demam tidak tinggi;
- lesu dan nafsu makan menurun;
- nyeri menelan dan nyeri tenggorokan;
- ingus kuning kehijauan, kadang bercampur darah.
Tanda khasnya adalah selaput putih keabuan di tenggorokan atau hidung, yang menurut Kemenkes tidak mudah lepas dan mudah berdarah, disertai leher bengkak. Menurut WHO, selaput ini dapat membuat penderita sulit bernapas dan menelan.
Segera ke fasilitas kesehatan bila
IDAI meminta orang tua segera membawa anak ke fasilitas kesehatan terdekat bila nyeri tenggorokan disertai suara napas berbunyi seperti mengorok atau pembesaran kelenjar di leher. Kemenkes juga menyebut sesak napas disertai bunyi sebagai gejala yang harus segera ditangani.
Anak yang dicurigai difteri perlu dirawat di rumah sakit. Menurut WHO, pengobatannya berupa penawar racun difteri dan antibiotik, dan pengobatan sedini mungkin sangat menurunkan risiko komplikasi dan kematian.
Bila ada anggota keluarga yang terkena
Menurut IDAI, untuk memutus penularan, seluruh anggota keluarga serumah harus segera diperiksa oleh dokter dan petugas Dinas Kesehatan, lalu mendapat obat pencegahan yang harus dihabiskan. Anggota keluarga yang tidak sakit segera diimunisasi sesuai usia. WHO menambahkan, status imunisasi semua orang yang kontak perlu diperiksa. Kemenkes juga menganjurkan masker dan perilaku hidup bersih dan sehat.
Jangan salah paham
"Demamnya tidak tinggi, berarti tidak berbahaya." Menurut Menteri Kesehatan (2017), demam pada difteri memang tidak terlalu tinggi, tetapi selaputnya dapat menutup saluran napas.
"Sudah pernah sakit difteri, berarti sudah kebal." WHO menganjurkan penderita difteri tetap divaksin setelah masa sakitnya lewat.
"Imunisasi waktu bayi sudah cukup." WHO menegaskan perlindungan butuh beberapa dosis dan dosis ulangan. IDAI menganjurkan imunisasi ulangan setiap 10 tahun, termasuk pada orang dewasa.
Jadwal imunisasi difteri di Indonesia
Menurut Kemenkes:
- DPT-HB-Hib 3 kali pada usia 2, 3, dan 4 bulan;
- ulangan DPT-HB-Hib pada usia 18 bulan;
- DT di kelas 1 SD, serta Td di kelas 2 dan kelas 5 SD melalui Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS), termasuk untuk anak yang tidak bersekolah.
Bila imunisasinya belum lengkap, IDAI menganjurkan segera melengkapinya di fasilitas kesehatan terdekat.
Peran keluarga
Periksa buku imunisasi anak dan pastikan dosis ulangannya tidak terlewat. Bila ada kasus difteri di lingkungan sekitar, ikuti petunjuk petugas kesehatan, termasuk minum obat pencegahan sampai habis dan ikut imunisasi tambahan bila diadakan di daerah Anda.
Ingat 3 hal ini
- Nyeri menelan dengan selaput putih keabuan dan leher bengkak perlu segera diperiksakan.
- Bila ada kasus difteri di rumah, semua anggota keluarga perlu diperiksa dan minum obat pencegahan sampai habis.
- Imunisasi difteri butuh dosis ulangan, sejak bayi, usia SD, hingga dewasa.
Bagikan bacaan ini kepada orang tua, guru SD, dan keluarga yang mengasuh anak.
Daftar Pustaka
- World Health Organization. Diphtheria. Fact sheet, 15 Juli 2026.
- NHS. Diphtheria. Ditinjau 24 Juli 2025.
- Ikatan Dokter Anak Indonesia. Himbauan IDAI tentang peningkatan kewaspadaan terhadap kasus difteri. 30 November 2017.
- Kementerian Kesehatan RI. Menkes: difteri menular, berbahaya dan mematikan, namun bisa dicegah dengan imunisasi. 11 Desember 2017.
- Kementerian Kesehatan RI. Setiap laporan kasus difteri bukti kewaspadaan. 9 Januari 2018.
- Kementerian Kesehatan RI. Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS). Ayo Sehat, diakses 7 Oktober 2026.
Sumber daring
- S1: World Health Organization — Diphtheria (fact sheet, 15 July 2026)
- S2: NHS — Diphtheria (page last reviewed 24 July 2025)
- S3: Ikatan Dokter Anak Indonesia — Himbauan IDAI tentang Peningkatan Kewaspadaan terhadap Kasus Difteri (30 November 2017)
- S4: Kementerian Kesehatan RI — Menkes: Difteri Menular, Berbahaya dan Mematikan, Namun Bisa Dicegah dengan Imunisasi (11 December 2017)
- S5: Kementerian Kesehatan RI — Setiap Laporan Kasus Difteri Bukti Kewaspadaan (9 January 2018)
- S6: Kementerian Kesehatan RI (Ayo Sehat) — Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) (accessed 7 October 2026)
Materi edukasi umum. Informasi ini tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, atau pengobatan oleh tenaga kesehatan. Jika mengalami keadaan darurat, cari pertolongan langsung.
Ringkasan keselamatan
- Nyeri tenggorokan disertai suara napas berbunyi seperti mengorok, sesak napas, selaput putih keabuan yang mudah berdarah, atau leher yang membengkak memerlukan pemeriksaan segera di fasilitas kesehatan.
Kenali koleksi dan sumber bacaan.
Koleksi Bacaan Cepat Dokter Erta. Naskah sumber diperbarui 7 Oktober 2026; diterbitkan di website Klinik Kiera pada 11 Oktober 2026. Daftar pustaka di atas mengikuti naskah sumber.
