Daftar isi bacaan
Bayangkan seorang ayah yang setiap pagi mengantar dua anaknya ke sekolah dengan sepeda motor. Ia memakai helm, tetapi kedua anaknya tidak, karena "sekolahnya dekat". Sementara itu, kakak mereka yang baru kelas 8 sudah biasa mengendarai motor sendiri ke tempat les.
Pemandangan seperti ini terasa biasa. Padahal, risikonya tidak biasa.
Risiko yang sering diremehkan
Menurut WHO, kecelakaan lalu lintas menewaskan sekitar 1,16 juta orang setiap tahun dan merupakan penyebab kematian utama pada usia 5 sampai 29 tahun. Lebih dari separuh korbannya adalah pengguna jalan yang rentan, termasuk pengendara sepeda motor. Puluhan juta lainnya mengalami cedera, dan banyak yang menjadi cacat.
Di Indonesia, analisis Riskesdas 2018 menunjukkan kecelakaan sepeda motor adalah penyebab utama cedera (40,6%). Namun, hanya 44,4% penduduk berusia 5 tahun ke atas yang berperilaku baik dalam memakai helm.
Helm: pelindung kepala yang terbukti
Menurut WHO, helm yang dipakai dengan benar dapat menurunkan risiko kematian lebih dari 6 kali dan risiko cedera otak hingga 74%. Analisis Riskesdas 2018 juga menemukan risiko cedera kepala lebih tinggi pada orang yang tidak memakai helm.
Artinya, helm perlu dipakai setiap pengendara dan penumpang, termasuk anak, dengan ukuran yang pas dan tali yang terkunci.
Tiga musuh di jalan
Menurut WHO:
- Kecepatan: setiap kenaikan 1% kecepatan rata-rata meningkatkan risiko kecelakaan fatal sebesar 4%.
- Ponsel: pengendara yang memakai ponsel sekitar 4 kali lebih mungkin mengalami kecelakaan. Telepon tanpa dipegang pun tidak jauh lebih aman.
- Alkohol: risiko kecelakaan meningkat bahkan pada kadar alkohol yang rendah.
Bila naik mobil
Kemenkes juga menganjurkan sabuk pengaman di mobil. Menurut WHO, sabuk pengaman dapat menurunkan risiko kematian penumpang hingga 50%, dan kursi pengaman anak dapat menurunkan kematian bayi hingga 71%.
Anak di bawah umur belum siap mengendarai
Menurut Kemenkes, anak usia 10 sampai 15 tahun tercatat ikut terlibat sebagai pengendara dalam kecelakaan. Menteri Kesehatan menegaskan, anak di bawah umur belum stabil secara emosional dan belum mampu mengimbangi sepeda motor yang dikendarainya. Anak juga berisiko karena pengalaman dan keterampilannya di jalan masih terbatas.
Jangan salah paham
"Dekat saja, tidak usah helm." Kecelakaan bisa terjadi di jalan mana pun. Manfaat helm berlaku setiap kali berkendara.
"Anak saya sudah lancar naik motor." Lancar mengendalikan motor tidak sama dengan siap menghadapi lalu lintas. Kemenkes mengingatkan, anak di bawah umur belum mampu mengimbangi kendaraannya.
"Pakai penyuara telinga, jadi aman menelepon." WHO menyebut telepon tanpa dipegang tidak jauh lebih aman dibanding memegang ponsel.
Bila terjadi kecelakaan
WHO menegaskan, pertolongan setelah kecelakaan sangat bergantung pada waktu; penundaan beberapa menit dapat menentukan keselamatan. Segera minta bantuan medis.
Peran keluarga
Kemenkes menganjurkan orang tua mengawasi anak di jalan, membuat anak mudah terlihat, dan mengajarkan bahwa jalan raya bukan tempat bermain. Jadikan helm untuk semua anggota keluarga sebagai aturan rumah, bukan pilihan.
Ingat 3 hal ini
- Semua pengendara dan penumpang, termasuk anak, memakai helm yang pas dan terkunci.
- Kendalikan kecepatan, jauhkan ponsel, dan jangan berkendara setelah minum alkohol.
- Anak di bawah umur jangan dulu mengendarai sepeda motor.
Bagikan bacaan ini kepada keluarga yang setiap hari naik motor, terutama yang mengantar anak ke sekolah.
Daftar Pustaka
- World Health Organization. Road traffic injuries. Fact sheet, 20 Juli 2026.
- Health Science Journal of Indonesia. Helmet use behavior and its relation to head injury of road traffic accident in Indonesia (Basic Health Research, 2018). Vol. 12 No. 1, 28 Juni 2021.
- Kementerian Kesehatan RI. Lindungi jiwa anak dengan jaga keselamatan jalan. Siaran pers, 25 Oktober 2015.
Sumber daring
- S1: World Health Organization — Road traffic injuries (fact sheet, 20 July 2026)
- S2: Health Science Journal of Indonesia (Kementerian Kesehatan RI) — Helmet use behavior and its relation to head injury of road traffic accident in Indonesia (Basic Health Research, 2018) (Vol. 12 No. 1, published 28 June 2021)
- S3: Kementerian Kesehatan RI — Lindungi Jiwa Anak dengan Jaga Keselamatan Jalan (siaran pers, 25 October 2015)
Materi edukasi umum. Informasi ini tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, atau pengobatan oleh tenaga kesehatan. Jika mengalami keadaan darurat, cari pertolongan langsung.
Ringkasan keselamatan
- Setelah kecelakaan, segera minta bantuan medis, karena menurut WHO penundaan beberapa menit dapat menentukan keselamatan korban.
Kenali koleksi dan sumber bacaan.
Koleksi Bacaan Cepat Dokter Erta. Naskah sumber diperbarui 7 Oktober 2026; diterbitkan di website Klinik Kiera pada 11 Oktober 2026. Daftar pustaka di atas mengikuti naskah sumber.
