Daftar isi bacaan
Bayangkan seseorang bercermin dengan senter ponsel. Tenggorokannya merah, menelan terasa sakit, dan ada bercak putih di amandel. Ia langsung yakin, "Ini pasti bakteri. Saya perlu antibiotik."
Masalahnya, tampilan tenggorokan saja tidak cukup untuk memastikan penyebabnya.
Sebagian besar sakit tenggorokan disebabkan virus. Bakteri streptokokus grup A (group A strep) memang penting karena dapat diobati dengan antibiotik dan pada keadaan tertentu bisa menimbulkan komplikasi. Tetapi pada orang dewasa, CDC memperkirakan bakteri ini hanya menyebabkan sekitar 5–15% radang tenggorokan. Kalau semua tenggorokan merah diberi antibiotik, sebagian besar orang akan menerima obat yang tidak mereka perlukan.
Ada petunjuk yang mengarah ke virus
Batuk, hidung berair, suara serak, mata merah (konjungtivitis), atau luka seperti sariawan di mulut lebih sering menandakan infeksi virus. Bila gambaran virusnya jelas, CDC menyebut dokter dapat menyimpulkan radang tenggorokan kemungkinan besar akibat virus, dan tes strep tidak diperlukan.
Bila tanda virus tidak jelas, situasinya berbeda. Demam, nyeri menelan, pembesaran kelenjar leher, amandel bengkak, bahkan bercak nanah putih (eksudat) bisa ditemukan pada strep, tetapi semua itu tidak cukup khas untuk memastikan diagnosis. Dokter membutuhkan cara yang lebih terstruktur.
Skor klinis membantu memilih siapa yang perlu dites
Anda mungkin pernah mendengar skor Centor atau McIsaac. Skor ini menilai kombinasi tanda seperti demam, pembesaran kelenjar leher tertentu, eksudat amandel, dan tidak adanya batuk. Skor McIsaac juga memperhitungkan usia.
Pedoman IDSA (perhimpunan dokter penyakit infeksi Amerika Serikat) 2025 menyarankan skor klinis dipakai untuk membantu menentukan siapa yang sebaiknya menjalani tes strep. Perhatikan fungsinya: memilih siapa yang layak dites, bukan menggantikan tes. Skor rendah membantu mengenali orang yang kemungkinan strep-nya kecil. Meski begitu, IDSA mengingatkan bahwa orang yang berisiko tinggi tetap perlu dipertimbangkan untuk dites walau skornya rendah.
Bayangkan skor itu seperti petugas penyaring di pintu. Ia menentukan siapa yang perlu masuk ke ruang pemeriksaan berikutnya, bukan hakim yang langsung menjatuhkan putusan.
Mengapa tes penting?
Tes cepat strep (rapid antigen test) mengambil usap tenggorokan dan mencari tanda bakteri streptokokus grup A. Bila hasilnya positif, hasil itu biasanya dapat dipercaya. Namun tes ini bisa melewatkan sebagian kasus, sehingga hasil negatif tidak selalu menutup kemungkinan strep.
Pada orang dewasa, CDC menyebut kultur tenggorokan setelah tes cepat negatif biasanya tidak diperlukan. Pada anak dan remaja, kultur lanjutan lebih penting karena risiko komplikasi seperti demam rematik berbeda.
Bila tes positif, antibiotik membantu mempercepat pemulihan, mengurangi penularan, dan menurunkan risiko komplikasi tertentu. Bila penyebabnya virus, antibiotik tidak membantu.
Jangan menjadikan "bercak putih" sebagai resep
Bercak putih di amandel memang tampak dramatis, tetapi virus tertentu juga bisa menimbulkannya. Sebaliknya, tidak semua infeksi strep tampak penuh bercak. Demam pun hanya menambah kemungkinan, bukan bukti.
Strategi "lihat tenggorokan lalu tebak antibiotik" menimbulkan dua masalah. Sebagian orang mendapat antibiotik yang tidak perlu, sementara sebagian lain dengan penyakit serius bisa terlambat dinilai karena semua perhatian tertuju pada warna tenggorokan.
Kapan perlu pertolongan lebih cepat?
Segera cari pertolongan bila sulit bernapas, tidak bisa menelan air liur sehingga air liur terus menetes, sulit membuka mulut, suara berubah seperti tertahan, leher makin bengkak, atau kondisi umum memburuk cepat. Tanda seperti ini bisa mengarah ke nanah di sekitar amandel atau gangguan jalan napas.
Bila infeksi strep sudah dipastikan dan antibiotik diberikan, minum sesuai resep. CDC menyarankan menghubungi tenaga kesehatan bila belum terasa membaik setelah sekitar 48 jam minum antibiotik.
Peran keluarga
Keluarga dapat membantu dengan memperhatikan gejala yang menyertai, seperti batuk, pilek, atau suara serak, lalu menyampaikannya kepada dokter. Sediakan minuman dan makanan lunak yang mudah ditelan, karena sakit menelan sering membuat pasien kurang minum. Hindari mendesak dokter memberi antibiotik hanya karena tenggorokan tampak merah. Bila antibiotik diresepkan setelah tes positif, bantu pasien meminumnya sampai selesai sesuai aturan, dan pisahkan alat makan selama masa penularan.
Kalau ada keluarga yang selalu meminta antibiotik begitu melihat tenggorokan merah atau bercak putih, bagikan bacaan ini. Pada sakit tenggorokan, pemeriksaan yang tepat sering lebih berguna daripada obat yang paling cepat diberikan.
Daftar Pustaka
- Infectious Diseases Society of America. Clinical Practice Guideline Update on Group A Streptococcal Pharyngitis, Part 1: Risk Assessment Using Clinical Scoring Systems. 2025.
- Centers for Disease Control and Prevention. Clinical Guidance for Group A Streptococcal Pharyngitis.
- Centers for Disease Control and Prevention. Testing for Strep Throat or Scarlet Fever.
- Centers for Disease Control and Prevention. About Strep Throat. Updated January 2026.
Sumber daring
Materi edukasi umum. Informasi ini tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, atau pengobatan oleh tenaga kesehatan. Jika mengalami keadaan darurat, cari pertolongan langsung.
Ringkasan keselamatan
- Sulit bernapas, sulit membuka mulut, tidak mampu menelan air liur, suara seperti tertahan, atau pembengkakan leher yang makin besar.
- Dehidrasi, penurunan kesadaran, ruam luas, atau kondisi umum yang memburuk memerlukan evaluasi segera.
Kenali koleksi dan sumber bacaan.
Koleksi Bacaan Cepat Dokter Erta. Naskah sumber diperbarui 7 Oktober 2026; diterbitkan di website Klinik Kiera pada 11 Oktober 2026. Daftar pustaka di atas mengikuti naskah sumber.
