Daftar isi bacaan
Ada satu kalimat yang beredar puluhan tahun: "Sedikit alkohol, apalagi anggur merah (wine), bagus untuk jantung."
Kedengarannya ilmiah. Apalagi sering ditemani cerita soal antioksidan, pola makan Mediterania, dan orang Eropa yang minum segelas wine sambil makan malam. Sebagian orang bahkan menjadikannya alasan untuk mulai minum "demi kesehatan".
Masalahnya, kesimpulan kesehatan tidak bisa diambil dari satu kebiasaan yang kebetulan muncul bersama banyak kebiasaan lain.
WHO menyatakan bahwa tidak ada konsumsi alkohol yang benar-benar bebas risiko. Konsumsi dalam jumlah rendah pun tetap membawa sebagian risiko, walaupun sebagian besar dampak kesehatan alkohol terjadi pada konsumsi berat, konsumsi tinggi yang terus-menerus, atau minum banyak dalam sekali waktu (binge drinking).
Jadi pertanyaan yang lebih tepat bukan "berapa gelas supaya jantung sehat?", melainkan "manfaat apa yang benar-benar terbukti, dan apa risikonya?"
Alkohol bukan obat jantung
Alkohol mengandung etanol, zat psikoaktif yang juga bersifat racun dan dapat menyebabkan ketergantungan. Di dalam tubuh, etanol terutama diolah di hati. Salah satu hasil antaranya adalah asetaldehida, senyawa reaktif yang ikut berperan dalam efek racun alkohol.
WHO menyebut alkohol berperan sebagai penyebab pada lebih dari 200 penyakit, cedera, dan kondisi kesehatan. Daftarnya mencakup penyakit hati, beberapa jenis kanker, cedera, gangguan penggunaan alkohol, serta masalah jantung dan pembuluh darah.
Karena itu saya tidak menyarankan orang yang tidak minum alkohol untuk mulai minum demi "melindungi jantung". Kalau ingin mendapatkan polifenol dari anggur, kabar baiknya sederhana: buah anggurnya juga ada. Kita tidak wajib menambahkan etanol ke dalam paketnya.
Dari mana cerita "sedikit alkohol bagus" muncul?
Sebagian penelitian pengamatan lama menemukan bahwa orang yang minum sedikit tampak berisiko penyakit jantung lebih rendah dibanding yang tidak minum. Tetapi penelitian seperti ini sulit dipisahkan dari faktor lain.
Kelompok "tidak minum" bisa saja termasuk orang yang berhenti karena sudah sakit. Orang yang minum sedikit mungkin berbeda dalam pendapatan, pola makan, aktivitas fisik, akses layanan kesehatan, atau kebiasaan sosial. Semua itu bisa memengaruhi hasil.
Jadi hubungan seperti itu tidak otomatis membuktikan bahwa alkohol yang melindungi. Dua hal yang berjalan bersama belum tentu salah satunya menjadi obat bagi yang lain.
Alkohol justru bisa mengganggu jantung
Pada sebagian orang, alkohol dapat menaikkan tekanan darah. Konsumsi dalam jumlah besar juga dapat memicu gangguan irama jantung, termasuk fibrilasi atrium. Ada istilah "holiday heart" untuk gangguan irama yang muncul setelah minum berat, sering dalam suasana pesta.
Alkohol juga menambah kalori, dapat mengganggu tidur, dan pada penggunaan berat ikut merusak otot jantung. Jadi bila seseorang punya hipertensi, gangguan irama jantung, gagal jantung, penyakit hati, atau minum obat tertentu, pembicaraan soal alkohol tidak boleh disederhanakan menjadi "satu gelas aman kok".
Risiko kanker jarang ikut dibicarakan
Ini bagian yang paling sering hilang saat orang membahas alkohol dan jantung. Alkohol adalah zat pemicu kanker yang sudah dikenal. WHO mengaitkannya dengan peningkatan risiko beberapa kanker, termasuk kanker payudara, hati, kepala-leher, kerongkongan, dan usus besar.
Artinya, kalau kita hanya membicarakan jantung, kita kehilangan gambaran seluruh tubuh. Kesehatan tidak dinilai dari satu pembuluh darah saja.
Kalau sudah terbiasa minum, apa yang sebaiknya dilakukan?
Prinsipnya: semakin sedikit, semakin rendah sebagian besar risiko terkait alkohol. Hindari minum banyak dalam sekali waktu. Jangan minum sebelum mengemudi atau melakukan pekerjaan yang butuh konsentrasi dan koordinasi. Jangan mencampur alkohol dengan obat tertentu tanpa memahami interaksinya. Pada kehamilan, alkohol sebaiknya dihindari karena dapat membahayakan janin.
Bila seseorang sulit mengurangi minum, merasakan keinginan kuat untuk minum, tetap minum walaupun sudah menimbulkan masalah, atau mengalami gejala putus alkohol, ini bukan sekadar soal disiplin. Gangguan penggunaan alkohol adalah kondisi kesehatan yang bisa membutuhkan bantuan profesional. Berhenti mendadak pada ketergantungan berat juga dapat berbahaya dan sebaiknya ditangani secara medis.
Keluarga sering menjadi pihak pertama yang melihat tanda-tanda ini. Daripada marah atau menyembunyikannya, ajak bicara saat suasana tenang dan dampingi mencari bantuan ke tenaga kesehatan.
Jadi bagaimana kalau tujuan kita menjaga jantung?
Ada strategi yang jauh lebih kuat buktinya:
- tidak merokok;
- tekanan darah terkontrol;
- kolesterol ditangani sesuai risiko;
- olahraga rutin;
- pola makan sehat;
- tidur cukup;
- berat badan dikelola secara sehat;
- diabetes dikendalikan bila ada.
Tidak satu pun membutuhkan alkohol. Kalau Anda tidak minum, tidak perlu mulai demi kesehatan. Kalau Anda minum, jangan menganggapnya "vitamin jantung".
Kalau bacaan ini berguna, kirimkan ke teman atau saudara yang masih memakai kalimat "wine bagus untuk jantung" sebagai resep kesehatan. Diskusinya boleh santai, tetapi faktanya tetap perlu serius.
Daftar Pustaka
- World Health Organization. Alcohol Fact Sheet. 2024.
- World Health Organization Regional Office for Europe. Alcohol Use — Health Effects.
- World Health Organization. Global Alcohol and Health Information.
Sumber daring
Materi edukasi umum. Informasi ini tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, atau pengobatan oleh tenaga kesehatan. Jika mengalami keadaan darurat, cari pertolongan langsung.
Kenali koleksi dan sumber bacaan.
Koleksi Bacaan Cepat Dokter Erta. Naskah sumber diperbarui 7 Oktober 2026; diterbitkan di website Klinik Kiera pada 11 Oktober 2026. Daftar pustaka di atas mengikuti naskah sumber.
