Daftar isi bacaan
Bayangkan seseorang memeriksakan diri karena khawatir tertular infeksi menular seksual (IMS). Ia menjalani tes urine untuk gonore dan klamidia, dan hasilnya negatif. Ia pulang dengan tenang. Tetapi apakah seluruh tubuhnya pasti bebas dari kedua infeksi itu?
Belum tentu. Gonore dan klamidia dapat bersarang di beberapa tempat: kelamin dan saluran kemih, rektum, serta tenggorokan. Lokasi infeksi sangat dipengaruhi oleh lokasi paparan seksual. Bila yang diperiksa hanya urine, infeksi di tenggorokan atau rektum bisa tidak terdeteksi.
Jadi pertanyaan penting dalam tes IMS bukan hanya "tes apa?", tetapi juga "sampelnya diambil dari mana?"
Banyak infeksi tidak menimbulkan gejala
Pada 2025 WHO menerbitkan pedoman khusus untuk IMS tanpa gejala, karena banyak infeksi tidak terdeteksi, terutama pada perempuan dan di tenggorokan serta rektum.
Menurut CDC, klamidia tanpa gejala sering ditemukan pada laki-laki maupun perempuan. WHO mencatat sebagian besar perempuan dengan gonore tidak bergejala, dan gonore di tenggorokan juga sering tanpa keluhan.
Artinya seseorang bisa merasa sehat tetapi tetap membawa dan menularkan bakteri. Tidak ada nyeri saat kencing atau cairan dari kelamin bukan bukti bebas infeksi.
Mengapa lokasi tes harus mengikuti lokasi paparan?
Misalnya seseorang melakukan hubungan seks oral. Gonore dapat menginfeksi tenggorokan tanpa keluhan apa pun. Bila hanya urine yang diperiksa, hasilnya bisa negatif walaupun usap tenggorokan positif.
Hal yang sama berlaku untuk hubungan seks anal. Infeksi di rektum dapat tanpa gejala, atau menimbulkan keluar cairan, perdarahan, atau gatal di anus.
CDC menganjurkan pemeriksaan di semua lokasi paparan pada kelompok yang berisiko. WHO juga menganjurkan sampel diambil dari kelamin, rektum, atau tenggorokan sesuai riwayat hubungan seksual.
Apa itu NAAT?
Tes amplifikasi asam nukleat (nucleic acid amplification test/NAAT) mendeteksi materi genetik bakteri. WHO menyebut tes ini sebagai baku emas untuk klamidia dan gonore. Menurut CDC, NAAT lebih peka daripada biakan kuman, termasuk untuk sampel dari rektum dan tenggorokan.
Sampelnya bisa berupa urine atau usap dari vagina, rektum, atau tenggorokan, tergantung lokasi paparan dan kemampuan laboratorium. CDC menyebut usap yang diambil sendiri oleh pasien, setelah diberi petunjuk, sama baiknya dengan yang diambil petugas. Jadi pemeriksaan ini tidak selalu harus terasa tidak nyaman.
Kenapa gonore perlu perhatian khusus?
Karena resistensi antibiotik pada gonore terus meningkat. WHO menyebutnya masalah serius yang sudah membuat banyak golongan antibiotik tidak lagi efektif, dengan risiko gonore menjadi sulit diobati.
Karena itu jangan memakai antibiotik sisa, resep milik pasangan, atau obat yang dulu pernah berhasil. Pengobatan yang tidak tepat bisa gagal membersihkan infeksi dan ikut mendorong resistensi. Bila diduga gagal pengobatan, CDC menganjurkan biakan kuman dan uji kepekaan antibiotik, karena NAAT tidak bisa menunjukkan obat mana yang masih mempan.
Setelah diobati, apakah selesai?
Belum tentu. Infeksi ulang sering terjadi bukan karena obatnya gagal, melainkan karena pasangan belum diperiksa atau diobati. CDC menganjurkan pasangan seksual dalam 60 hari terakhir ikut diperiksa dan diobati, dan orang dengan gonore juga dites untuk IMS lain, termasuk HIV dan sifilis.
CDC juga menganjurkan tes ulang sekitar 3 bulan setelah pengobatan gonore maupun klamidia. Khusus gonore di tenggorokan, dianjurkan tes pemastian sembuh (test of cure) 7–14 hari setelah pengobatan, karena infeksi di tenggorokan lebih sulit dibersihkan.
Tanpa pengobatan, klamidia dan gonore pada perempuan dapat menyebabkan radang panggul, kemandulan, dan kehamilan di luar kandungan.
Peran keluarga
Bila pasangan Anda didiagnosis gonore atau klamidia, jangan menunggu muncul gejala. Periksakan diri, berobat bersama, dan tunda hubungan seksual sampai pengobatan keduanya selesai. Bila anak muda di keluarga berani bercerita tentang hal ini, dengarkan tanpa menghakimi dan bantu ia ke layanan kesehatan.
Ingat 3 hal ini
- Gonore dan klamidia sering tidak bergejala, jadi merasa sehat bukan berarti bebas infeksi.
- Tes urine hanya menilai lokasi tertentu; tenggorokan atau rektum perlu diperiksa bila ada paparan di sana.
- Pengobatan pasangan dan tes ulang mencegah infeksi ulang, sedangkan gonore butuh obat yang tepat karena resistensi antibiotik.
Kalau ada orang yang pernah mendapat hasil tes urine negatif lalu menganggap semua IMS pasti sudah tersingkir, bagikan bacaan ini. Pada IMS, tes yang benar harus dilakukan di lokasi yang benar.
Daftar Pustaka
- World Health Organization. Guidelines for the Management of Asymptomatic Sexually Transmitted Infections. Geneva: WHO; 2025.
- World Health Organization. Chlamydia Fact Sheet. 21 November 2025.
- World Health Organization. Gonorrhoea (Neisseria gonorrhoeae Infection) Fact Sheet. 22 October 2025.
- Centers for Disease Control and Prevention. Sexually Transmitted Infections Treatment Guidelines, 2021: Chlamydial Infections.
- Centers for Disease Control and Prevention. Sexually Transmitted Infections Treatment Guidelines, 2021: Gonococcal Infections Among Adolescents and Adults.
Sumber daring
- S1: WHO — Guidelines for the Management of Asymptomatic Sexually Transmitted Infections (9 July 2025)
- S2: WHO — Chlamydia Fact Sheet (21 November 2025)
- S3: WHO — Gonorrhoea (Neisseria gonorrhoeae Infection) Fact Sheet (22 October 2025)
- S4: CDC — Sexually Transmitted Infections Treatment Guidelines, 2021: Chlamydial Infections
- S5: CDC — Sexually Transmitted Infections Treatment Guidelines, 2021: Gonococcal Infections Among Adolescents and Adults
Materi edukasi umum. Informasi ini tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, atau pengobatan oleh tenaga kesehatan. Jika mengalami keadaan darurat, cari pertolongan langsung.
Ringkasan keselamatan
- Nyeri perut bawah atau panggul yang berat, demam, atau nyeri dan bengkak pada buah zakar memerlukan pemeriksaan segera.
- Keluhan yang menetap setelah pengobatan gonore perlu diperiksakan ulang karena kemungkinan resistensi antibiotik.
Kenali koleksi dan sumber bacaan.
Koleksi Bacaan Cepat Dokter Erta. Naskah sumber diperbarui 7 Oktober 2026; diterbitkan di website Klinik Kiera pada 11 Oktober 2026. Daftar pustaka di atas mengikuti naskah sumber.
