Bandung Barat · Solusi sehat keluarga AndaPendaftaran 0812 2200 2500

Pencegahan, skrining, dan pemeriksaan rutin

Anak Ditimbang Saja Belum Cukup: Ukur Juga Panjang atau Tinggi Badannya di Posyandu Setiap Bulan untuk Mengenali Stunting Sejak Dini

Stunting adalah kondisi anak lebih pendek dari standar usianya akibat kekurangan gizi menahun yang dapat dimulai sejak dalam kandungan, sehingga anak perlu ditimbang dan diukur panjang atau tinggi badannya di posyandu setiap bulan, agar gangguan pertumbuhan terlihat dari grafik sebelum terlambat dan dapat dicegah dengan ASI eksklusif, protein hewani, dan pemantauan rutin.

Daftar isi bacaan
  1. Apa itu stunting
  2. Mengapa berat badan saja tidak cukup
  3. Kapan risikonya meningkat
  4. Langkah pencegahan
  5. Jangan salah paham
  6. Peran keluarga
  7. Ingat 3 hal ini
  8. Daftar Pustaka
  9. Bacaan terkait

Bayangkan seorang ibu yang rajin membawa anaknya yang berusia 14 bulan ke posyandu. Setiap bulan anaknya ditimbang, dan beratnya naik sedikit-sedikit. Namun, panjang badannya jarang diukur. Saat terlihat lebih pendek dari sepupunya, keluarga berkata, "Wajar, ayahnya juga tidak tinggi."

Padahal, panjang atau tinggi badan adalah salah satu kunci untuk mengenali stunting.

Apa itu stunting

Menurut WHO, stunting adalah tinggi badan yang rendah menurut usia, akibat kekurangan gizi yang menahun atau berulang. Penyebabnya antara lain kesehatan dan gizi ibu yang kurang, anak yang sering sakit, dan pemberian makan yang tidak tepat. Stunting menghambat anak mencapai potensi fisik dan kecerdasannya. Pada 2022, sekitar 149 juta balita di dunia mengalami stunting.

Menurut Ayo Sehat Kemenkes, stunting dapat terjadi sejak janin dalam kandungan dan baru tampak saat anak berusia sekitar dua tahun. Karena itu, pertumbuhan perlu dipantau sejak dini, bukan menunggu anak terlihat pendek.

Mengapa berat badan saja tidak cukup

Menurut WHO, kekurangan gizi pada anak punya beberapa bentuk: kurus, yaitu berat badan rendah menurut tinggi badan; stunting, yaitu tinggi badan rendah menurut usia; dan berat badan rendah menurut usia. Seorang anak bisa mengalami satu atau beberapa sekaligus. Jadi, untuk stunting, yang dinilai adalah panjang atau tinggi badan dibandingkan usianya. Menurut Ayo Sehat, petugas mengukur panjang atau tinggi badan, berat badan, lingkar kepala, dan lingkar lengan. Anak dinyatakan stunting bila tinggi badannya berada di bawah garis minus 2 standar deviasi pada kurva pertumbuhan WHO.

Kemenkes kini memperkuat mutu pengukuran di posyandu dengan membagikan 300.000 alat ukur antropometri.

Kapan risikonya meningkat

Menurut Kemenkes, data Riskesdas 2018 menunjukkan 23% bayi sudah lahir dalam keadaan stunting. Setelah lahir, angkanya meningkat sekitar 1,8 kali pada usia 6 sampai 23 bulan, antara lain karena kurangnya protein hewani dan pola pemberian makan yang tidak tepat.

Kabar baiknya, hasil Survei Status Gizi Indonesia menunjukkan prevalensi stunting nasional turun dari 21,5% pada 2023 menjadi 19,8% pada 2024. Artinya, pencegahan bisa berhasil.

Langkah pencegahan

Menurut Ayo Sehat Kemenkes:

  • datang ke posyandu setiap bulan untuk ditimbang, diukur, dipantau perkembangannya, dan diimunisasi;
  • berikan ASI eksklusif selama 6 bulan, lalu lanjutkan hingga 2 tahun dengan makanan pendamping;
  • berikan protein hewani setiap hari setelah bayi berusia 6 bulan, misalnya telur, ikan, atau daging;
  • ibu hamil memeriksakan kehamilan minimal 6 kali dan minum tablet tambah darah.

Jangan salah paham

"Beratnya naik, berarti tumbuhnya baik." Panjang atau tinggi badan tetap perlu diukur, karena stunting dinilai dari tinggi menurut usia.

"Pendek karena keturunan." Menurut WHO, stunting adalah akibat kekurangan gizi menahun. Biarkan petugas mengukur dan menilai grafik pertumbuhan anak.

Peran keluarga

Ayah, kakek, dan nenek dapat membantu dengan ikut mengantar ke posyandu, menyediakan lauk hewani, dan menjaga kebersihan rumah serta air minum. Mintalah petugas menjelaskan grafik di buku KIA.

Ingat 3 hal ini

  1. Ke posyandu setiap bulan: timbang dan ukur.
  2. Stunting bisa dimulai sejak dalam kandungan.
  3. Protein hewani setiap hari setelah usia 6 bulan.

Bagikan bacaan ini kepada orang tua balita, kader posyandu, dan keluarga yang sedang menanti kelahiran.

Daftar Pustaka

  1. Kementerian Kesehatan RI. Stunting. Ayo Sehat. Diakses 7 Oktober 2026.
  2. Kementerian Kesehatan RI. SSGI 2024: prevalensi stunting nasional turun menjadi 19,8%. Rilis berita, 26 Mei 2025.
  3. Kementerian Kesehatan RI. Gerakan ibu hamil sehat untuk turunkan stunting dan angka kematian ibu. Rilis berita, 13 Desember 2022.
  4. World Health Organization. Malnutrition. Fact sheet, 1 Maret 2024.
Untuk membantu Anda memahami kesehatan.

Materi edukasi umum. Informasi ini tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, atau pengobatan oleh tenaga kesehatan. Jika mengalami keadaan darurat, cari pertolongan langsung.

Ringkasan keselamatan
  • Berat atau panjang badan anak tidak naik, garis pertumbuhan mendatar atau menurun pada grafik, atau anak sering sakit perlu dikonsultasikan ke petugas kesehatan.
Tentang naskah ini

Kenali koleksi dan sumber bacaan.

Koleksi Bacaan Cepat Dokter Erta. Naskah sumber diperbarui 7 Oktober 2026; diterbitkan di website Klinik Kiera pada 11 Oktober 2026. Daftar pustaka di atas mengikuti naskah sumber.

Lanjutkan rasa ingin tahu

Bacaan terkait.

Semua bacaan di topik ini
Pencegahan, skrining, dan pemeriksaan rutin

Anak Membaca Terlalu Dekat atau Sering Mengucek Mata? Gangguan Penglihatan Bisa Diatasi dengan Kacamata Bila Ditemukan Dini

Kelainan refraksi seperti rabun jauh adalah penyebab utama gangguan penglihatan dan dialami sekitar 3,6 juta anak Indonesia, tetapi 3 dari 4 di antaranya belum memakai kacamata, sehingga orang tua perlu mengenali tanda anak sulit melihat dan memeriksakan mata anak sejak dini, sementara pada orang tua dan kakek nenek, katarak tetap menjadi penyebab utama kebutaan yang dapat diatasi.

3 menit bacaBaca artikel
Pencegahan, skrining, dan pemeriksaan rutin

Posyandu Bukan Cuma untuk Balita: Orang Dewasa dan Lansia Bisa Cek Tekanan Darah, Gula Darah, dan Lingkar Perut Setiap Bulan di Dekat Rumah

Posyandu kini melayani seluruh siklus hidup, termasuk usia produktif dan lansia, dengan hari buka setiap bulan di dekat rumah untuk mengukur berat badan, lingkar perut, dan tekanan darah serta memeriksa gula darah dan kolesterol, sehingga penyakit tidak menular yang sering tanpa gejala dapat dipantau di antara jadwal Cek Kesehatan Gratis tahunan.

3 menit bacaBaca artikel
Pencegahan, skrining, dan pemeriksaan rutin

Anak Dikira Tidak Fokus, Kakek Minta TV Dikeraskan? Periksa Pendengaran Sejak Bayi hingga Lansia dan Batasi Earphone 60/60

Gangguan pendengaran dapat terjadi sejak lahir hingga lanjut usia, sering tidak terlihat, dan sekitar 60% penyebabnya dapat dicegah, sehingga pendengaran perlu diperiksa sejak bayi, saat sekolah, pada pekerja di tempat bising, dan pada lansia, sambil menerapkan kebiasaan mendengar aman seperti membatasi volume earphone maksimal 60% dan tidak lebih dari 60 menit tanpa jeda.

3 menit bacaBaca artikel

Mari mulai dari percakapan.

Admin kami membantu Anda memilih layanan dan mengonfirmasi jadwal kunjungan.

Hubungi admin