Bandung Barat · Solusi sehat keluarga AndaPendaftaran 0812 2200 2500

Pencegahan, skrining, dan pemeriksaan rutin

Anak Dikira Tidak Fokus, Kakek Minta TV Dikeraskan? Periksa Pendengaran Sejak Bayi hingga Lansia dan Batasi Earphone 60/60

Gangguan pendengaran dapat terjadi sejak lahir hingga lanjut usia, sering tidak terlihat, dan sekitar 60% penyebabnya dapat dicegah, sehingga pendengaran perlu diperiksa sejak bayi, saat sekolah, pada pekerja di tempat bising, dan pada lansia, sambil menerapkan kebiasaan mendengar aman seperti membatasi volume earphone maksimal 60% dan tidak lebih dari 60 menit tanpa jeda.

Daftar isi bacaan
  1. Masalah yang sering tidak terlihat
  2. Sebagian besar dapat dicegah
  3. Siapa yang perlu diperiksa
  4. Bila ditemukan gangguan
  5. Kebiasaan mendengar yang aman
  6. Jangan salah paham
  7. Peran keluarga
  8. Ingat 3 hal ini
  9. Daftar Pustaka
  10. Bacaan terkait

Bayangkan satu keluarga di sebuah rumah. Kakek selalu meminta televisi dikeraskan dan sering salah menangkap pembicaraan. Cucunya yang SMP memakai earphone berjam-jam setiap hari. Adiknya yang kelas 1 SD sering dimarahi guru karena dianggap tidak memperhatikan.

Ketiganya mungkin punya masalah yang sama: pendengaran.

Masalah yang sering tidak terlihat

Menurut Kemenkes, pendengaran berperan penting dalam perkembangan bahasa, kemampuan belajar, interaksi sosial, hingga produktivitas saat dewasa. Gangguannya dapat terjadi sejak lahir hingga lanjut usia. Pada anak, gangguan ini sering tidak terlihat secara fisik, tetapi memengaruhi kemampuan bicara, belajar, dan bergaul. Kemenkes mengingatkan, banyak anak yang dianggap tidak fokus atau sulit belajar bisa jadi mengalami gangguan pendengaran.

Pemeriksaan pendengaran kini menjadi bagian dari Cek Kesehatan Gratis. Hingga akhir 2025, dari lebih dari 18 juta orang yang diperiksa, sekitar 1,8% terdeteksi mengalami gangguan pendengaran.

Menurut WHO, lebih dari 25% orang berusia di atas 60 tahun mengalami gangguan pendengaran yang mengganggu aktivitas. Bila tidak ditangani, gangguan pendengaran dapat menyebabkan kesepian dan meningkatkan risiko demensia.

Sebagian besar dapat dicegah

Menurut Kemenkes, sekitar 60% gangguan pendengaran disebabkan hal yang dapat dicegah. Penyebab utamanya:

  • tuli bawaan sejak lahir;
  • infeksi telinga atau congek;
  • paparan bising;
  • faktor usia;
  • kotoran telinga yang menyumbat.

WHO menambahkan penyebab lain, misalnya infeksi rubela saat hamil, bayi kuning berat setelah lahir, dan obat tertentu yang dapat merusak pendengaran.

Siapa yang perlu diperiksa

Menurut Kemenkes, deteksi dini dimulai dari:

  • bayi baru lahir dan balita;
  • anak prasekolah dan usia sekolah;
  • orang yang terus terpapar bising atau zat kimia di tempat kerja;
  • orang yang memakai obat yang dapat merusak pendengaran;
  • lansia.

Di tempat kerja, kebisingan dapat mengganggu kesehatan bila melampaui 85 desibel selama 8 jam setiap hari. Gangguan akibat bising terjadi perlahan dan dapat menjadi permanen bila tidak segera diatasi. Karena itu, pekerja di tempat bising sebaiknya menjalani pemeriksaan pendengaran sebelum mulai bekerja dan setiap tahun.

Bila ditemukan gangguan

Menurut WHO, gangguan pendengaran bisa ringan hingga sangat berat, dan dapat mengenai satu atau kedua telinga. Makin dini ditemukan, makin baik penanganannya. Pilihannya antara lain alat bantu dengar, implan koklea, terapi wicara, dan bahasa isyarat, sesuai kebutuhan. Tujuannya agar anak tetap bisa belajar dan orang dewasa tetap bisa bekerja serta bergaul.

Kebiasaan mendengar yang aman

Kemenkes menganjurkan:

  • volume earphone maksimal 60%, dan tidak lebih dari 60 menit tanpa jeda;
  • jangan mengorek telinga sendiri;
  • jangan minum obat yang dapat merusak pendengaran dalam jangka panjang tanpa konsultasi dokter.

Jangan salah paham

"Anaknya memang tidak fokus." Periksakan dulu pendengarannya sebelum memberi cap malas atau nakal.

"Pendengaran turun karena tua itu biasa." Menurut WHO, alat bantu dengar dan rehabilitasi dapat membantu lansia tetap mandiri dan aktif bergaul.

Peran keluarga

Kemenkes menekankan peran keluarga dan sekolah dalam menjaga pendengaran anak. Atur volume televisi dan musik di rumah, ingatkan aturan 60/60, dan antar kakek nenek memeriksakan pendengarannya.

Ingat 3 hal ini

  1. Anak yang dianggap tidak fokus perlu diperiksa pendengarannya.
  2. Earphone: volume maksimal 60%, paling lama 60 menit tanpa jeda.
  3. Jangan mengorek telinga sendiri; periksakan bila terasa tersumbat.

Bagikan bacaan ini kepada keluarga, guru, dan teman kerja yang sering terpapar suara bising.

Daftar Pustaka

  1. Kementerian Kesehatan RI. Kemenkes dorong deteksi dini dan perilaku mendengar aman. Rilis berita, 2 Maret 2026.
  2. Kementerian Kesehatan RI. 60% gangguan pendengaran dapat dicegah. Rilis berita, 3 Maret 2023.
  3. World Health Organization. Deafness and hearing loss. Fact sheet, 3 Maret 2026.
Untuk membantu Anda memahami kesehatan.

Materi edukasi umum. Informasi ini tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, atau pengobatan oleh tenaga kesehatan. Jika mengalami keadaan darurat, cari pertolongan langsung.

Ringkasan keselamatan
  • Anak sering tidak merespons saat dipanggil atau sulit mengikuti pelajaran, telinga berair atau congek, telinga terasa tersumbat, dan pendengaran yang turun mendadak perlu diperiksakan.
Tentang naskah ini

Kenali koleksi dan sumber bacaan.

Koleksi Bacaan Cepat Dokter Erta. Naskah sumber diperbarui 7 Oktober 2026; diterbitkan di website Klinik Kiera pada 11 Oktober 2026. Daftar pustaka di atas mengikuti naskah sumber.

Lanjutkan rasa ingin tahu

Bacaan terkait.

Semua bacaan di topik ini
Pencegahan, skrining, dan pemeriksaan rutin

Anak Ditimbang Saja Belum Cukup: Ukur Juga Panjang atau Tinggi Badannya di Posyandu Setiap Bulan untuk Mengenali Stunting Sejak Dini

Stunting adalah kondisi anak lebih pendek dari standar usianya akibat kekurangan gizi menahun yang dapat dimulai sejak dalam kandungan, sehingga anak perlu ditimbang dan diukur panjang atau tinggi badannya di posyandu setiap bulan, agar gangguan pertumbuhan terlihat dari grafik sebelum terlambat dan dapat dicegah dengan ASI eksklusif, protein hewani, dan pemantauan rutin.

3 menit bacaBaca artikel
Pencegahan, skrining, dan pemeriksaan rutin

Bayi Baru Lahir Terlihat Sehat Belum Tentu Bebas Kelainan: Kenali Skrining Tetes Darah Tumit dan Pemeriksaan Oksigen Sebelum Pulang

Beberapa kelainan bawaan seperti hipotiroid kongenital, penyakit jantung bawaan kritis, dan kekurangan enzim G6PD sering tidak bergejala saat lahir, sehingga setiap bayi perlu menjalani skrining bayi baru lahir, berupa beberapa tetes darah dari tumit pada usia 48 sampai 72 jam dan pemeriksaan kadar oksigen dengan oksimeter, agar bayi yang terdeteksi dapat segera diobati sebelum timbul kerusakan permanen.

3 menit bacaBaca artikel
Pencegahan, skrining, dan pemeriksaan rutin

Anak Membaca Terlalu Dekat atau Sering Mengucek Mata? Gangguan Penglihatan Bisa Diatasi dengan Kacamata Bila Ditemukan Dini

Kelainan refraksi seperti rabun jauh adalah penyebab utama gangguan penglihatan dan dialami sekitar 3,6 juta anak Indonesia, tetapi 3 dari 4 di antaranya belum memakai kacamata, sehingga orang tua perlu mengenali tanda anak sulit melihat dan memeriksakan mata anak sejak dini, sementara pada orang tua dan kakek nenek, katarak tetap menjadi penyebab utama kebutaan yang dapat diatasi.

3 menit bacaBaca artikel

Mari mulai dari percakapan.

Admin kami membantu Anda memilih layanan dan mengonfirmasi jadwal kunjungan.

Hubungi admin