Bandung Barat · Solusi sehat keluarga AndaPendaftaran 0812 2200 2500

Pencegahan, skrining, dan pemeriksaan rutin

Bayi Baru Lahir Terlihat Sehat Belum Tentu Bebas Kelainan: Kenali Skrining Tetes Darah Tumit dan Pemeriksaan Oksigen Sebelum Pulang

Beberapa kelainan bawaan seperti hipotiroid kongenital, penyakit jantung bawaan kritis, dan kekurangan enzim G6PD sering tidak bergejala saat lahir, sehingga setiap bayi perlu menjalani skrining bayi baru lahir, berupa beberapa tetes darah dari tumit pada usia 48 sampai 72 jam dan pemeriksaan kadar oksigen dengan oksimeter, agar bayi yang terdeteksi dapat segera diobati sebelum timbul kerusakan permanen.

Daftar isi bacaan
  1. Mengapa bayi yang tampak sehat tetap perlu diskrining
  2. Jenis skrining bayi baru lahir
  3. Tetes darah dari tumit
  4. Pemeriksaan oksigen untuk jantung
  5. Jangan salah paham
  6. Peran keluarga
  7. Ingat 3 hal ini
  8. Daftar Pustaka
  9. Bacaan terkait

Bayangkan sebuah keluarga yang baru menyambut bayi mungil. Bayinya menangis kuat dan menyusu dengan lahap. Saat bidan meminta mereka kembali di hari ketiga untuk mengambil beberapa tetes darah dari tumit bayi, nenek menolak. "Bayinya sehat, kasihan kalau ditusuk," katanya.

Niatnya baik. Namun, beberapa kelainan bawaan tidak terlihat saat bayi lahir.

Mengapa bayi yang tampak sehat tetap perlu diskrining

Menurut Ayo Sehat Kemenkes, skrining bayi baru lahir adalah pemeriksaan awal untuk menemukan masalah kesehatan yang belum menimbulkan gejala, sehingga dapat ditangani lebih awal dan mencegah komplikasi jangka panjang.

Contohnya hipotiroid kongenital, yaitu kekurangan hormon tiroid sejak lahir. Menurut Kemenkes, sebagian besar bayi dengan kondisi ini tidak menunjukkan gejala, dan gejala khas baru muncul seiring bertambahnya usia. Bila terlambat, dampaknya dapat berupa kecacatan serta gangguan tumbuh kembang dan kecerdasan.

Jenis skrining bayi baru lahir

Menurut Ayo Sehat Kemenkes, jenisnya meliputi:

  • hipotiroid kongenital;
  • penyakit jantung bawaan kritis;
  • hiperplasia adrenal kongenital;
  • G6PD, enzim yang menjaga sel darah merah;
  • pendengaran.

Kabar baiknya, skrining hipotiroid, hiperplasia adrenal, dan G6PD dilakukan dalam satu kali pengambilan darah.

Tetes darah dari tumit

Menurut Kemenkes, petugas mengambil 2 sampai 3 tetes darah dari tumit bayi pada usia 48 sampai 72 jam, paling lambat 2 minggu. Bila hasil hipotiroid positif, bayi harus segera diobati sebelum usia 1 bulan. Pengobatannya bisa berlangsung seumur hidup, tetapi memungkinkan anak tumbuh dan berkembang optimal.

Pada bayi dengan kekurangan G6PD, menurut Ayo Sehat, sel darah merah mudah pecah bila terpapar obat tertentu, kacang-kacangan, atau infeksi. Pada bayi baru lahir, kondisi ini dapat menyebabkan kuning berat yang dapat merusak otak.

Pemeriksaan oksigen untuk jantung

Penyakit jantung bawaan kritis dapat mengancam nyawa dan sering perlu tindakan sebelum bayi berusia 1 bulan. Skrining dilakukan dengan oksimeter, alat yang dipasang di tangan kanan dan salah satu kaki untuk mengukur kadar oksigen darah, pada usia lebih dari 24 sampai 48 jam, atau sebelum pulang bila bayi dipulangkan lebih cepat.

Menurut Kemenkes, hingga Juni 2026 lebih dari 490 ribu bayi telah diskrining dengan cara ini, dan sekitar 4,3% di antaranya perlu pemeriksaan lanjutan. Dari enam jenis skrining bayi baru lahir dalam data CKG, penyakit jantung bawaan kritis menunjukkan potensi angka kejadian tertinggi. Bila terlambat ditemukan dan ditangani, menurut Ayo Sehat, bayi berisiko meninggal pada tahun pertama, bahkan bulan pertama.

Jangan salah paham

"Bayinya sehat, tidak perlu diperiksa." Justru skrining dibuat untuk menemukan kelainan sebelum ada gejala.

"Hasil positif berarti bayi pasti sakit berat." Hasil skrining positif berarti bayi perlu pemeriksaan lanjutan, bukan diagnosis akhir.

Peran keluarga

Menurut Menteri Kesehatan, orang tua dapat meminta skrining bayi baru lahir di fasilitas kesehatan secara gratis. Bila bayi pulang sebelum 48 jam, catat jadwal kembali untuk pengambilan darah tumit.

Ingat 3 hal ini

  1. Bayi yang tampak sehat tetap perlu skrining.
  2. Darah tumit diambil pada usia 48 sampai 72 jam, paling lambat 2 minggu.
  3. Hasil positif perlu segera ditindaklanjuti, jangan ditunda.

Bagikan bacaan ini kepada ibu hamil, calon ayah, dan keluarga yang sedang menanti kelahiran bayi.

Daftar Pustaka

  1. Kementerian Kesehatan RI. Skrining bayi baru lahir. Ayo Sehat, 24 Januari 2025.
  2. Kementerian Kesehatan RI. Skrining penyakit jantung bawaan kritis (PJB kritis). Ayo Sehat, 24 Januari 2025.
  3. Kementerian Kesehatan RI. Skrining G6PD. Ayo Sehat, 24 Januari 2025.
  4. Kementerian Kesehatan RI. Kemenkes relaunching skrining hipotiroid kongenital untuk kurangi risiko kecacatan pada anak. Rilis berita, 31 Agustus 2022.
  5. Kementerian Kesehatan RI. 1,2 juta bayi baru lahir sudah jalani skrining hipotiroid kongenital. Rilis berita, 21 Januari 2024.
  6. Kementerian Kesehatan RI. CKG ungkap masalah kesehatan di setiap kelompok usia. Rilis berita, 16 Juli 2026.
Untuk membantu Anda memahami kesehatan.

Materi edukasi umum. Informasi ini tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, atau pengobatan oleh tenaga kesehatan. Jika mengalami keadaan darurat, cari pertolongan langsung.

Ringkasan keselamatan
  • Bayi yang tampak kuning berat perlu segera dibawa ke fasilitas kesehatan, dan hasil skrining yang memerlukan pemeriksaan lanjutan tidak boleh ditunda.
Tentang naskah ini

Kenali koleksi dan sumber bacaan.

Koleksi Bacaan Cepat Dokter Erta. Naskah sumber diperbarui 7 Oktober 2026; diterbitkan di website Klinik Kiera pada 11 Oktober 2026. Daftar pustaka di atas mengikuti naskah sumber.

Lanjutkan rasa ingin tahu

Bacaan terkait.

Semua bacaan di topik ini
Pencegahan, skrining, dan pemeriksaan rutin

Tes HIV, Sifilis, dan Hepatitis B Saat Hamil Bukan Tuduhan: Pemeriksaan Darah Sederhana untuk Melindungi Bayi

Setiap ibu hamil dianjurkan menjalani tes HIV, sifilis, dan hepatitis B karena ketiga infeksi ini sering tanpa gejala tetapi dapat menular ke bayi, sedangkan bila ditemukan lebih awal, ibu dapat segera diobati dan bayi dapat dilindungi, misalnya dengan suntikan penisilin untuk sifilis serta imunisasi hepatitis B dalam 24 jam setelah lahir.

3 menit bacaBaca artikel
Gejala, triase, dan kapan mencari pertolongan

Bayi Baru Lahir Malas Menyusu, Kuning, atau Terasa Dingin? Kenali Tanda Bahaya yang Tidak Boleh Ditunggu sampai Besok

Bulan pertama adalah masa paling rawan bagi bayi, dan tanda sakitnya sering samar; malas menyusu dan banyak tidur, demam atau suhu di bawah 36,5 derajat, sesak, kejang, kuning yang muncul dalam 24 jam pertama atau lebih dari 2 minggu, serta tali pusat yang merah, berbau, atau berdarah adalah tanda bahaya yang perlu segera dibawa ke petugas kesehatan.

4 menit bacaBaca artikel
Pencegahan, skrining, dan pemeriksaan rutin

Anak Dikira Tidak Fokus, Kakek Minta TV Dikeraskan? Periksa Pendengaran Sejak Bayi hingga Lansia dan Batasi Earphone 60/60

Gangguan pendengaran dapat terjadi sejak lahir hingga lanjut usia, sering tidak terlihat, dan sekitar 60% penyebabnya dapat dicegah, sehingga pendengaran perlu diperiksa sejak bayi, saat sekolah, pada pekerja di tempat bising, dan pada lansia, sambil menerapkan kebiasaan mendengar aman seperti membatasi volume earphone maksimal 60% dan tidak lebih dari 60 menit tanpa jeda.

3 menit bacaBaca artikel

Mari mulai dari percakapan.

Admin kami membantu Anda memilih layanan dan mengonfirmasi jadwal kunjungan.

Hubungi admin