Daftar isi bacaan
Bayangkan seorang anak kelas dua SD yang belakangan tampak pucat, mudah lelah, dan sering mengantuk di kelas. Berat badannya tidak bertambah. Ia suka bermain di halaman tanpa sandal dan jarang cuci tangan sebelum makan. Neneknya berkata, "Jangan-jangan cacingan."
Bisa jadi benar. Mari kita pahami.
Bagaimana cacing masuk ke tubuh?
Menurut WHO, cacing usus yang menular lewat tanah menginfeksi sekitar 1,5 miliar orang di dunia. Cacing dewasa di usus menghasilkan ribuan telur setiap hari yang keluar bersama tinja. Di tempat yang sanitasinya buruk, telur ini mencemari tanah, lalu masuk ke tubuh lewat:
- sayur yang tidak dicuci, dimasak, atau dikupas dengan baik;
- air yang tercemar;
- tangan anak yang bermain tanah lalu masuk ke mulut.
Ada juga cacing tambang. Larvanya hidup di tanah dan dapat menembus kulit, terutama saat orang berjalan tanpa alas kaki.
Gejala yang patut dicurigai
WHO menjelaskan, infeksi ringan dengan sedikit cacing sering tanpa gejala. Infeksi yang lebih berat dapat menyebabkan diare, sakit perut, kurang gizi, lemas, serta gangguan tumbuh kembang.
Cacing juga memakan jaringan tubuh, termasuk darah, sehingga tubuh kehilangan zat besi dan protein. Cacing tambang menyebabkan perdarahan usus yang menahun dan dapat berujung anemia. IDAI menambahkan gejala yang sering dikenali orang tua: lesu, tidak bersemangat, sering mengantuk, pucat, dan prestasi belajar menurun.
Jangan salah paham
"Tidak ada cacing di tinjanya, berarti aman." Infeksi ringan sering tidak menimbulkan tanda yang terlihat. Sebaliknya, obat cacing saja tidak cukup bila kebiasaan dan sanitasi tidak diperbaiki, karena anak bisa terinfeksi ulang dari lingkungan yang sama.
Kapan obat cacing diberikan?
WHO menganjurkan obat cacing berkala bagi kelompok berisiko di daerah yang banyak kasus cacingannya, tanpa perlu pemeriksaan tinja satu per satu. Obat yang dianjurkan, seperti albendazol dan mebendazol, efektif, murah, dan efek sampingnya umumnya ringan.
IDAI menyebut obat cacing dapat mulai diberikan sejak usia 2 tahun dan diulang setiap 6 bulan di daerah endemis. Di daerah yang bukan endemis, obat cacing diberikan sesuai indikasi dan pemeriksaan dokter. Di Indonesia, Kemenkes menjalankan program Pemberian Obat Pencegahan secara Massal (POPM) cacingan. WHO menyebut pemberian obat cacing mudah digabungkan dengan program kesehatan sekolah atau pemberian vitamin A untuk balita.
Cacing kremi: urusan satu rumah
Cacing kremi berbeda. Menurut NHS, cacing ini tampak seperti potongan benang putih di tinja atau di sekitar dubur, dan menyebabkan gatal hebat di dubur, terutama malam hari, sehingga anak rewel dan sering terbangun. Telurnya menempel di jari saat menggaruk, lalu berpindah ke pakaian, sprei, handuk, mainan, dan makanan, serta bisa bertahan hingga 2 minggu.
NHS menganjurkan semua anggota keluarga berusia 2 tahun ke atas ikut diobati, meski tidak bergejala. Untuk anak di bawah 2 tahun, ibu hamil, atau menyusui, tanyakan dulu kepada tenaga kesehatan. Karena obat tidak membunuh telurnya, lanjutkan kebersihan selama 2 minggu: cuci tangan dan sikat bawah kuku, potong kuku pendek, mandi setiap pagi, cuci baju tidur, sprei, dan handuk setiap hari selama beberapa hari, serta jangan berbagi handuk. Anak tidak perlu berhenti sekolah.
Pencegahan sehari-hari
Saran IDAI: cuci tangan dengan sabun sebelum makan, gunting kuku seminggu sekali, pakai alas kaki, dan cuci buah serta sayur sebelum dimakan.
Peran keluarga
Jadikan cuci tangan dan potong kuku sebagai kebiasaan bersama. Catat kapan anak terakhir minum obat cacing. Periksakan anak bila tampak pucat, lesu, berat badannya tidak naik, diare berlendir atau berdarah, atau sakit perut hebat. Pada infeksi yang sangat berat, cacing bahkan dapat menyumbat usus.
Ingat 3 hal ini
- Telur cacing masuk lewat tangan kotor, sayur yang tidak dicuci, dan kaki tanpa alas.
- Obat cacing berkala dianjurkan di daerah berisiko, mulai usia 2 tahun.
- Cacing kremi: obati seluruh keluarga dan jaga kebersihan selama 2 minggu.
Bagikan bacaan ini kepada orang tua, guru, dan kader posyandu yang mendampingi anak-anak.
Daftar Pustaka
- World Health Organization. Soil-transmitted helminth infections: fact sheet. 18 January 2023.
- Ikatan Dokter Anak Indonesia. Kapan balita perlu minum obat cacing? 2 Maret 2017.
- NHS. Threadworms. Page last reviewed 1 December 2023.
- Kementerian Kesehatan RI, Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan. Pengaruh cacingan pada kesehatan anak. 21 September 2022.
Sumber daring
- S1: WHO — Soil-transmitted Helminth Infections Fact Sheet (18 January 2023)
- S2: Ikatan Dokter Anak Indonesia — Kapan Balita Perlu Minum Obat Cacing? (2 March 2017)
- S3: NHS — Threadworms (reviewed 1 December 2023)
- S4: Kementerian Kesehatan RI, Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan — Pengaruh Cacingan pada Kesehatan Anak (21 September 2022)
Materi edukasi umum. Informasi ini tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, atau pengobatan oleh tenaga kesehatan. Jika mengalami keadaan darurat, cari pertolongan langsung.
Ringkasan keselamatan
- Periksakan anak bila tampak pucat, lesu, berat badannya tidak naik, diare berlendir atau berdarah, atau sakit perut hebat.
Kenali koleksi dan sumber bacaan.
Koleksi Bacaan Cepat Dokter Erta. Naskah sumber diperbarui 7 Oktober 2026; diterbitkan di website Klinik Kiera pada 11 Oktober 2026. Daftar pustaka di atas mengikuti naskah sumber.
