Daftar isi bacaan
Bayangkan suasana rumah tiga hari setelah persalinan. Tamu datang silih berganti, semua mata tertuju pada bayi, dan sang ibu berusaha tersenyum walau badannya terasa makin lemas. Darah nifasnya terasa lebih banyak dari kemarin, tetapi ia diam saja karena mengira "memang begitu habis melahirkan".
Situasi seperti ini patut diwaspadai. Menurut ACOG, lebih dari separuh kematian terkait kehamilan terjadi setelah bayi lahir. WHO mencatat sekitar 260.000 perempuan meninggal karena kehamilan dan persalinan pada 2023, sebagian besar sebenarnya dapat dicegah, dan perdarahan berat serta infeksi yang terutama terjadi setelah melahirkan termasuk penyebab utamanya. Bacaan ini membantu membedakan keluhan nifas yang wajar dari tanda bahaya yang tidak boleh ditunggu sampai jadwal kontrol.
Darah nifas: wajar, tetapi ada batasnya
Setelah melahirkan, keluar darah dan cairan dari vagina adalah hal normal yang disebut lokia atau darah nifas. Menurut ACOG, awalnya darah berwarna merah terang, lalu dalam beberapa hari menjadi lebih muda dan kemerahan pucat.
Yang tidak wajar adalah perdarahan pascapersalinan: darah jauh lebih banyak dari biasanya, yaitu membasahi dua pembalut per jam selama lebih dari 1 sampai 2 jam. Perdarahan ini paling sering terjadi dalam 24 jam pertama, tetapi bisa muncul hingga 12 minggu setelah melahirkan.
Kenapa bisa terjadi perdarahan hebat?
Setelah plasenta lepas, rahim harus berkontraksi kuat. Kontraksi inilah yang menjepit pembuluh darah di tempat plasenta tadi menempel. Bayangkan keran air yang ditutup dengan memeras selangnya; bila genggamannya lemah, air tetap mengalir. Dalam tubuh, kondisi rahim yang tidak berkontraksi dengan baik disebut atonia uteri, dan menurut ACOG ini penyebab tersering. Penyebab lain adalah sisa plasenta yang masih menempel, gangguan pembekuan darah, dan robekan pada rahim, leher rahim, atau vagina.
Tandanya bukan hanya darah yang mengucur atau gumpalan besar. Waspadai juga kulit pucat dan dingin berkeringat, pusing, lemas, hampir pingsan, bingung, jantung berdebar cepat, serta nyeri dan bengkak di sekitar vagina.
Demam setelah melahirkan: jangan langsung salahkan ASI
Saat persalinan, kuman dapat masuk ke lapisan dalam rahim dan menyebabkan infeksi yang disebut endometritis. Menurut ACOG, kondisi ini biasanya muncul 2 sampai 10 hari setelah melahirkan, tetapi bisa sampai 6 minggu. Tandanya:
- demam dan menggigil;
- badan terasa lelah atau sakit;
- nyeri atau nyeri tekan di perut;
- cairan vagina berbau busuk.
Bila tidak segera diobati, infeksi ini dapat menyebar ke seluruh tubuh (sepsis), menyebabkan syok, dan kegagalan organ. Pengobatannya biasanya antibiotik melalui infus.
Tanda bahaya lain hingga setahun setelah melahirkan
CDC mengingatkan bahwa tanda bahaya perlu diwaspadai selama hamil dan hingga setahun setelah melahirkan, antara lain:
- demam 38 derajat Celsius atau lebih;
- sakit kepala yang tidak hilang, pusing, atau pingsan;
- sesak napas, nyeri dada, atau jantung berdebar cepat;
- nyeri perut hebat yang tidak hilang;
- bengkak, kemerahan, atau nyeri hebat di tungkai atau lengan;
- rasa lelah yang luar biasa;
- pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau bayi.
Tanda terakhir ini sering dipendam karena malu atau takut dihakimi. Padahal ini termasuk tanda bahaya yang membutuhkan pertolongan segera, bukan kelemahan karakter.
Peran keluarga
ACOG secara khusus berpesan agar keluarga dan teman ikut mempelajari tanda bahaya ini, karena ibu yang lelah sering tidak menyadari kondisinya sendiri. Bantu memantau jumlah darah nifas, ukur suhu bila ibu menggigil, dan ambil alih sebagian tugas merawat bayi agar ibu bisa beristirahat. Dengarkan bila ibu mengatakan "rasanya ada yang tidak beres", dan jangan menunda membawanya ke fasilitas kesehatan.
Kabar baiknya, menurut ACOG, ibu yang mendapat pengobatan tepat waktu biasanya pulih sepenuhnya. Bertindak cepat dapat menyelamatkan nyawa.
Ingat 3 hal ini
- Darah nifas yang membasahi dua pembalut per jam selama lebih dari 1 sampai 2 jam adalah keadaan darurat, bahkan hingga 12 minggu setelah melahirkan.
- Demam, menggigil, nyeri perut, dan cairan vagina berbau setelah melahirkan bisa menandakan infeksi rahim.
- Tanda bahaya ibu tetap berlaku hingga setahun setelah melahirkan, termasuk pikiran menyakiti diri atau bayi.
Kalau ada ibu yang baru melahirkan di keluarga atau lingkungan Anda, bagikan bacaan ini kepadanya dan orang-orang yang menemaninya. Mengenali tanda bahaya lebih awal dapat membuat seorang ibu tetap bisa membesarkan bayinya.
Daftar Pustaka
- American College of Obstetricians and Gynecologists. 3 Conditions to Watch for After Childbirth. Last reviewed February 2026.
- Centers for Disease Control and Prevention. Urgent Maternal Warning Signs. Hear Her Campaign.
- World Health Organization. Maternal Mortality. Fact Sheet. 7 April 2025.
- American College of Obstetricians and Gynecologists. Optimizing Postpartum Care. ACOG Committee Opinion No. 736. Obstet Gynecol. 2018;131:e140–e150.
Sumber daring
Materi edukasi umum. Informasi ini tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, atau pengobatan oleh tenaga kesehatan. Jika mengalami keadaan darurat, cari pertolongan langsung.
Ringkasan keselamatan
- Darah membasahi dua pembalut per jam lebih dari 1 sampai 2 jam, gumpalan besar, pusing, hampir pingsan, atau jantung berdebar cepat memerlukan pertolongan segera.
- Demam 38 derajat Celsius atau lebih, cairan vagina berbau, nyeri perut hebat, sesak, nyeri dada, atau pikiran menyakiti diri atau bayi memerlukan pertolongan segera.
Kenali koleksi dan sumber bacaan.
Koleksi Bacaan Cepat Dokter Erta. Naskah sumber diperbarui 7 Oktober 2026; diterbitkan di website Klinik Kiera pada 11 Oktober 2026. Daftar pustaka di atas mengikuti naskah sumber.
