Daftar isi bacaan
Bayangkan seorang karyawan yang dulu bersemangat datang ke kantor. Kini, setiap Minggu malam dadanya terasa berat. Di kantor ia mudah tersinggung, menganggap semua tugas sia-sia, dan merasa hasil kerjanya tidak lagi berarti. Libur akhir pekan tidak pernah cukup untuk memulihkannya.
Ia mulai menyalahkan diri sendiri sebagai orang yang malas. Padahal, bisa jadi ia sedang mengalami burnout.
Apa itu burnout
WHO memasukkan burnout dalam Klasifikasi Penyakit Internasional (ICD-11) sebagai fenomena pekerjaan, bukan penyakit. Burnout terjadi akibat stres kerja menahun yang tidak berhasil dikelola, dengan tiga ciri:
- energi terasa terkuras habis atau sangat lelah;
- makin menjauh dari pekerjaan, atau merasa negatif dan sinis terhadapnya;
- menurunnya rasa mampu dalam bekerja.
WHO menegaskan, istilah burnout khusus dipakai untuk konteks pekerjaan.
Tanda yang bisa dirasakan
Menurut Kemenkes, burnout dapat muncul sebagai kelelahan fisik, emosi, dan mental, misalnya:
- sakit kepala, sakit punggung, otot leher dan bahu tegang, susah tidur, perubahan pola makan;
- mudah tersinggung, putus asa, merasa tidak berdaya;
- merasa tidak berharga dan bersikap negatif terhadap orang lain.
NHS menambahkan, stres juga dapat membuat sulit berkonsentrasi, sulit mengambil keputusan, dan merasa kewalahan.
Mengapa ini bukan sekadar soal pribadi
Menurut WHO, risiko bagi kesehatan jiwa di tempat kerja antara lain:
- beban kerja berlebihan atau kekurangan staf;
- jam kerja panjang dan tidak fleksibel;
- kurang kendali atas beban kerja;
- kurang dukungan rekan atau atasan;
- kekerasan, pelecehan, atau perundungan;
- peran kerja tidak jelas dan ketidakpastian kerja.
WHO memperkirakan sekitar 12 miliar hari kerja hilang setiap tahun akibat depresi dan kecemasan. Sebaliknya, WHO juga menyebut pekerjaan yang layak baik bagi kesehatan jiwa, karena memberi penghasilan, rasa percaya diri, dan tujuan.
Jangan salah paham
"Burnout tanda orang malas." Menurut WHO, burnout lahir dari stres kerja menahun yang tidak tertangani, dan banyak risikonya berasal dari kondisi kerja.
"Itu urusan pekerja saja." WHO menganjurkan tempat kerja ikut bertindak, misalnya dengan pengaturan kerja yang fleksibel dan melatih atasan agar mampu mengenali dan menanggapi pekerja yang tertekan.
"Rokok atau alkohol bisa melepas stres." NHS menyarankan tidak memakai alkohol, rokok, judi, atau narkoba untuk melepas stres, karena semuanya memperburuk kesehatan jiwa.
Langkah yang bisa dimulai
Menurut Kemenkes dan NHS:
- kenali penyebab utama: beban kerja, perubahan di kantor, atau hubungan dengan rekan;
- atur prioritas dan fokus pada hal yang bisa Anda kendalikan;
- jangan lewatkan makan siang dan istirahat;
- tetapkan batas: jangan terus membawa urusan kantor ke rumah;
- latih teknik pernapasan dan relaksasi, dan lakukan aktivitas fisik ringan;
- bicarakan perasaan dengan orang yang dipercaya, dan buat target kecil yang mudah dicapai.
Bila Anda sulit mengatasinya atau usaha sendiri tidak membantu, NHS menganjurkan menemui tenaga kesehatan. Bila muncul pikiran atau tindakan menyakiti diri, segera minta pertolongan.
Peran keluarga
Perhatikan bila anggota keluarga yang bekerja makin mudah marah, sulit tidur, atau kehilangan minat. Dengarkan tanpa menghakimi, dan bantu ia memberi ruang istirahat di rumah.
Ingat 3 hal ini
- Burnout adalah akibat stres kerja menahun yang tidak tertangani, bukan tanda malas.
- Tiga cirinya: terkuras, sinis terhadap pekerjaan, dan merasa tidak lagi mampu.
- Penanganannya butuh langkah pekerja dan dukungan tempat kerja.
Bagikan bacaan ini kepada rekan kerja, atasan, dan keluarga yang sedang bekerja keras.
Daftar Pustaka
- World Health Organization. Burn-out an "occupational phenomenon": International Classification of Diseases. 28 Mei 2019.
- World Health Organization. Mental health at work. Fact sheet, 15 September 2026.
- NHS. Stress. Ditinjau 6 Maret 2026.
- Kementerian Kesehatan RI, Ditjen Kesehatan Lanjutan. Mengenal burnout pada pekerja. 14 Mei 2024.
- Kementerian Kesehatan RI. 7 cara efektif mengatasi stres kerja untuk lebih produktif. Ayo Sehat, 13 Januari 2025.
Sumber daring
- S1: World Health Organization — Burn-out an "occupational phenomenon": International Classification of Diseases (28 May 2019)
- S2: World Health Organization — Mental health at work (fact sheet, 15 September 2026)
- S3: NHS — Stress (page last reviewed 6 March 2026)
- S4: Kementerian Kesehatan RI, Ditjen Kesehatan Lanjutan (RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro) — Mengenal Burnout pada Pekerja (14 May 2024)
- S5: Kementerian Kesehatan RI (Ayo Sehat) — 7 Cara Efektif Mengatasi Stres Kerja untuk Lebih Produktif (13 January 2025)
Materi edukasi umum. Informasi ini tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, atau pengobatan oleh tenaga kesehatan. Jika mengalami keadaan darurat, cari pertolongan langsung.
Ringkasan keselamatan
- Bila stres kerja membuat Anda sulit menjalani hari, usaha sendiri tidak membantu, muncul gejala murung berkepanjangan, atau pikiran menyakiti diri, segera minta bantuan tenaga kesehatan.
Kenali koleksi dan sumber bacaan.
Koleksi Bacaan Cepat Dokter Erta. Naskah sumber diperbarui 7 Oktober 2026; diterbitkan di website Klinik Kiera pada 11 Oktober 2026. Daftar pustaka di atas mengikuti naskah sumber.
