Daftar isi bacaan
Bayangkan seorang anak kelas 8 yang beberapa bulan terakhir makin sering mengurung diri di kamar dengan ponselnya sampai larut malam. Nilainya turun, ia mudah marah, dan pagi hari sering mengeluh sakit perut agar tidak sekolah. Orang tuanya mengira, "Namanya juga puber." Belakangan baru diketahui, ia terus diejek di grup percakapan kelas.
Perubahan seperti ini mudah terlewat. Padahal, bisa jadi itu sinyal bahwa anak sedang tidak baik-baik saja.
Lebih sering dari yang dikira
Menurut WHO, satu dari tujuh remaja usia 10 sampai 19 tahun mengalami gangguan jiwa, tetapi sebagian besar tidak dikenali dan tidak ditangani. Depresi dan kecemasan termasuk penyebab utama kesakitan pada remaja, dan bunuh diri menjadi penyebab kematian ketiga terbanyak pada usia 15 sampai 29 tahun.
WHO menyebut tekanan untuk menyesuaikan diri dengan teman, pencarian jati diri, pengaruh media, serta perundungan sebagai faktor yang menambah beban jiwa remaja. Kemenkes menambahkan, otak remaja masih berkembang, sehingga remaja cenderung bertindak impulsif dan kurang mempertimbangkan akibat.
Kapan media sosial menjadi masalah
Media sosial tidak selalu buruk. Studi WHO Eropa menemukan remaja yang sering memakai media sosial tetapi tidak bermasalah justru merasakan dukungan teman yang lebih kuat.
Namun, penggunaan yang bermasalah naik dari 7% pada 2018 menjadi 11% pada 2022. Cirinya:
- tidak mampu mengendalikan penggunaan;
- gelisah saat tidak memakai;
- mengabaikan kegiatan lain;
- mengganggu kehidupan sehari-hari.
Penggunaan seperti ini berkaitan dengan tidur lebih sedikit, jam tidur lebih larut, dan kesejahteraan jiwa yang lebih rendah.
Perundungan bukan sekadar candaan
Menurut Kemenkes, perundungan adalah tindakan menyakiti yang berulang, bisa berupa fisik, verbal seperti hinaan dan ejekan, atau dalam hubungan pertemanan. Dampaknya, korban merasa cemas, takut, mudah marah, hingga depresi.
Tanda yang perlu diwaspadai orang tua
Menurut Kemenkes:
- sulit mengendalikan emosi, mudah marah atau sedih tanpa alasan jelas;
- kehilangan minat pada sekolah atau teman;
- menarik diri dari lingkungan;
- merasa tidak berharga, kadang dilampiaskan dengan merokok atau alkohol;
- prestasi menurun;
- perubahan pola tidur dan makan;
- keluhan fisik seperti sakit kepala atau sakit perut.
Kemenkes mengingatkan, tanda-tanda ini sering diabaikan karena dianggap bagian normal masa puber.
Jangan salah paham
"Itu cuma fase puber." Bila tanda-tanda di atas menetap, jangan menunggu; bicarakan dan cari bantuan.
"Larang saja media sosial." WHO Eropa menyebut media sosial punya sisi positif dan negatif, dan menganjurkan keluarga membicarakan penggunaan digital secara terbuka.
Peran keluarga
Menurut Kemenkes, orang tua perlu terlibat dalam kehidupan anak, menunjukkan kasih sayang, mendorong komunikasi terbuka, dan memberi pujian atas usahanya. Tanyakan tentang pengalamannya di dunia maya dengan nada ingin tahu, bukan menginterogasi. Bila anak dirundung, ajak ia bercerita kepada orang yang dipercaya, libatkan guru, dan cari bantuan psikolog bila perlu. Bila anak membicarakan atau melakukan tindakan menyakiti diri, segera cari pertolongan tenaga kesehatan.
Ingat 3 hal ini
- Satu dari tujuh remaja mengalami gangguan jiwa, dan banyak yang tidak dikenali.
- Media sosial bermasalah bila tidak terkendali dan mengganggu tidur, sekolah, atau pergaulan.
- Perundungan berdampak nyata; dengarkan anak dan cari bantuan bila perlu.
Bagikan bacaan ini kepada orang tua, guru, dan siapa pun yang dekat dengan remaja.
Daftar Pustaka
- World Health Organization. Mental health of adolescents. Fact sheet, 1 September 2025.
- WHO Regional Office for Europe. Teens, screens and mental health. Siaran berita, 25 September 2024.
- Kementerian Kesehatan RI. Pentingnya kesehatan mental bagi remaja dan cara menghadapinya. Ayo Sehat, 28 November 2024.
- Kementerian Kesehatan RI. Menjaga kesehatan mental para penerus bangsa. Siaran pers, 12 Oktober 2023.
Sumber daring
- S1: World Health Organization — Mental health of adolescents (fact sheet, 1 September 2025)
- S2: WHO Regional Office for Europe — Teens, screens and mental health (media release, 25 September 2024)
- S3: Kementerian Kesehatan RI (Ayo Sehat) — Pentingnya Kesehatan Mental bagi Remaja dan Cara Menghadapinya (28 November 2024)
- S4: Kementerian Kesehatan RI — Menjaga Kesehatan Mental Para Penerus Bangsa (siaran pers, 12 October 2023)
Materi edukasi umum. Informasi ini tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, atau pengobatan oleh tenaga kesehatan. Jika mengalami keadaan darurat, cari pertolongan langsung.
Ringkasan keselamatan
- Anak yang membicarakan atau melakukan tindakan menyakiti diri, menolak sekolah berkepanjangan, menarik diri sepenuhnya, atau mulai merokok, minum alkohol, atau memakai obat terlarang memerlukan bantuan tenaga kesehatan segera.
Kenali koleksi dan sumber bacaan.
Koleksi Bacaan Cepat Dokter Erta. Naskah sumber diperbarui 7 Oktober 2026; diterbitkan di website Klinik Kiera pada 11 Oktober 2026. Daftar pustaka di atas mengikuti naskah sumber.
