Bandung Barat · Solusi sehat keluarga AndaPendaftaran 0812 2200 2500

Penggunaan obat yang aman sehari-hari

Orang Tua Minum Banyak Obat dari Beberapa Dokter? Bawa Daftar Lengkapnya Saat Kontrol dan Tanyakan Mana yang Masih Perlu

Lansia sering minum banyak obat sekaligus karena punya beberapa penyakit, padahal makin banyak obat makin besar risiko efek samping, obat ganda, dan jatuh akibat pusing atau kantuk, sehingga keluarga perlu membuat daftar lengkap semua obat, vitamin, dan suplemen, menunjukkannya kepada setiap dokter dan apoteker, meminta tinjauan obat secara berkala, dan tidak menghentikan obat sendiri tanpa berbicara dengan dokter.

Daftar isi bacaan
  1. Mengapa lansia sering minum banyak obat?
  2. Mengapa berisiko?
  3. Minta tinjauan obat
  4. Jangan salah paham
  5. Peran keluarga
  6. Ingat 3 hal ini
  7. Daftar Pustaka
  8. Bacaan terkait

Bayangkan seorang nenek yang kontrol ke dokter jantung, dokter penyakit dalam, dan dokter saraf. Masing-masing memberi obat. Di rumah, ia juga minum obat pegal dari warung dan dua macam vitamin. Akhir-akhir ini ia sering pusing saat berdiri dan pernah hampir jatuh di kamar mandi.

Tidak ada yang pernah melihat semua obatnya sekaligus.

Mengapa lansia sering minum banyak obat?

Menurut NIA, lembaga penelitian penuaan di Amerika Serikat, orang berusia 65 tahun ke atas cenderung minum obat lebih banyak daripada kelompok usia lain, karena sering punya beberapa penyakit sekaligus. WHO menyebut keadaan ini polifarmasi, dan menjadikan keamanan obat pada polifarmasi salah satu prioritas keselamatan pasien.

Mengapa berisiko?

  • Efek samping bertambah. Menurut NIA, makin banyak obat, makin besar risiko efek samping dan masalah yang tidak diinginkan.
  • Tubuh berubah seiring usia. Perubahan ini dapat memengaruhi cara obat bekerja, sehingga obat yang dulu cocok belum tentu tetap cocok.
  • Obat ganda. Obat dari beberapa sumber bisa mengandung zat aktif yang sama. NIA mengingatkan, kelebihan zat aktif yang sama dapat merusak hati.
  • Pusing, kantuk, dan jatuh. Menurut Kemenkes, obat seperti obat tidur atau antidepresan dapat menimbulkan pusing dan kantuk yang meningkatkan risiko jatuh. Setiap tahun, satu dari empat lansia mengalami jatuh, yang dapat menyebabkan cedera kepala dan patah tulang, terutama pergelangan tangan, punggung, dan panggul.

Minta tinjauan obat

WHO menganjurkan pendekatan yang berpusat pada pasien: setiap obat ditinjau agar benar-benar sesuai, memberi manfaat, dan tidak membahayakan. NIA menyarankan bertanya kepada dokter apakah ada obat yang dapat dikurangi atau dihentikan dengan aman. Kemenkes menambahkan, mengurangi atau mengganti obat yang membuat pusing atau mengantuk, serta memilih dosis yang aman, dapat menurunkan risiko jatuh.

Setiap kali mendapat obat baru, NIA menyarankan bertanya: apa nama obat ini dan untuk apa, efek samping apa yang mungkin muncul, apakah aman diminum bersama obat lain, dan apakah aman bila dihentikan mendadak.

Jangan salah paham

"Makin banyak obat, makin cepat sembuh." NIA mengingatkan, jangan minum dosis lebih besar dengan anggapan obat akan lebih manjur. Hal ini bisa sangat berbahaya.

"Obatnya terlalu banyak, hentikan saja sebagian." Jangan. NIA menegaskan, obat resep diminum sampai dokter menyatakan boleh berhenti. Pengurangan obat harus diputuskan bersama dokter.

Peran keluarga

  • Buat daftar lengkap semua obat, termasuk obat bebas, vitamin, dan suplemen: nama, dosis, waktu minum, dokter yang meresepkan, dan alasannya. Simpan satu salinan di rumah dan satu di dompet.
  • Tunjukkan daftar itu kepada setiap dokter, dokter gigi, dan apoteker. Bila bisa, tebus resep di apotek yang sama.
  • Gunakan jadwal atau kotak obat mingguan, dan jangan minum obat dalam keadaan gelap.
  • Dampingi orang tua saat kontrol agar penjelasan dokter tidak terlewat.
  • Ingatkan untuk berdiri perlahan, seperti dianjurkan Kemenkes untuk mencegah jatuh.

Segera hubungi dokter bila muncul pusing, hampir pingsan, sering mengantuk, ruam, sesak napas, atau perubahan suasana hati setelah memakai obat, atau bila orang tua jatuh.

Ingat 3 hal ini

  1. Banyak obat berarti risiko efek samping dan jatuh ikut bertambah.
  2. Bawa daftar lengkap semua obat setiap kontrol.
  3. Minta dokter meninjau obat; jangan menghentikan obat sendiri.

Bagikan bacaan ini kepada keluarga yang merawat orang tua atau kakek nenek dengan banyak obat rutin.

Daftar Pustaka

  1. World Health Organization. Medication safety in polypharmacy: technical report. 20 Juni 2019.
  2. National Institute on Aging. Taking medicines safely as you age. Ditinjau 22 September 2022.
  3. Kementerian Kesehatan RI, Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan. Aman di usia senja: strategi efektif cegah jatuh pada lansia. 31 Januari 2025.
  4. Kementerian Kesehatan RI, Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan. Cara mencegah jatuh pada lansia. 31 Januari 2025.
Untuk membantu Anda memahami kesehatan.

Materi edukasi umum. Informasi ini tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, atau pengobatan oleh tenaga kesehatan. Jika mengalami keadaan darurat, cari pertolongan langsung.

Ringkasan keselamatan
  • Pusing, hampir pingsan, atau sering mengantuk setelah mulai minum obat baru.
  • Jatuh, terutama bila disertai benturan kepala atau nyeri hebat di pinggul, punggung, atau pergelangan tangan.
  • Ruam, sesak napas, gangguan pencernaan, atau perubahan suasana hati setelah memakai obat.
Tentang naskah ini

Kenali koleksi dan sumber bacaan.

Koleksi Bacaan Cepat Dokter Erta. Naskah sumber diperbarui 7 Oktober 2026; diterbitkan di website Klinik Kiera pada 11 Oktober 2026. Daftar pustaka di atas mengikuti naskah sumber.

Lanjutkan rasa ingin tahu

Bacaan terkait.

Semua bacaan di topik ini
Penggunaan obat yang aman sehari-hari

Minum Obat Dokter Sambil Rutin Minum Jamu atau Suplemen Herbal? Ceritakan Semuanya, Karena Keduanya Bisa Saling Memengaruhi

Jamu dan suplemen herbal mengandung zat aktif yang dapat melemahkan atau justru memperkuat efek obat dokter, misalnya ginkgo, ginseng, atau bawang putih yang memengaruhi obat pengencer darah dan ekstrak teh hijau yang menurunkan kadar obat kolesterol, sehingga pasien dan keluarga perlu membuat daftar tertulis semua obat, jamu, dan suplemen yang diminum lalu menunjukkannya kepada dokter dan apoteker, terutama bila memakai obat pengencer darah, obat jantung, obat diabetes, atau akan dioperasi.

3 menit bacaBaca artikel
Penggunaan obat yang aman sehari-hari

Bentol dan Gatal Setelah Minum Obat: Efek Samping atau Alergi? Kenali Bedanya, Catat Nama Obatnya, dan Laporkan

Efek samping obat umumnya ringan dan hilang setelah obat dihentikan, sedangkan alergi obat adalah reaksi sistem kekebalan yang bisa ringan seperti bentol dan ruam hingga mengancam jiwa seperti sesak napas dan pingsan, sehingga keluarga perlu mengenali tanda bahaya, mencatat nama obat penyebab alergi dan memberitahukannya kepada setiap tenaga kesehatan, serta melaporkan efek samping obat kepada tenaga kesehatan atau BPOM melalui e-MESO atau HALOBPOM 1500533.

3 menit bacaBaca artikel

Mari mulai dari percakapan.

Admin kami membantu Anda memilih layanan dan mengonfirmasi jadwal kunjungan.

Hubungi admin