Bandung Barat · Solusi sehat keluarga AndaPendaftaran 0812 2200 2500

Pencegahan, skrining, dan pemeriksaan rutin

Darah di Tinja Jangan Langsung Dianggap Wasir: Kenali Kanker Usus Besar dan Manfaat Skrining Mulai Usia 45 Tahun

Kanker usus besar sering berawal dari polip jinak dan pada tahap awal sering tanpa gejala, sehingga darah di tinja atau perubahan pola buang air besar tidak boleh langsung dianggap wasir, dan deteksi dini, yang dalam Cek Kesehatan Gratis dimulai usia 45 tahun, dapat menemukan serta mengangkat polip sebelum menjadi kanker.

Daftar isi bacaan
  1. Kanker yang tumbuh perlahan dari polip
  2. Mengapa tidak boleh menunggu gejala
  3. Pilihan skrining
  4. Jangan salah paham
  5. Peran keluarga
  6. Ingat 3 hal ini
  7. Daftar Pustaka
  8. Bacaan terkait

Bayangkan seorang bapak berusia 52 tahun yang beberapa minggu ini melihat darah di tinjanya. "Paling wasir," pikirnya, lalu ia membeli salep di warung. Buang air besarnya juga sering tidak lancar, tetapi ia menganggapnya karena kurang makan sayur.

Bisa jadi memang wasir. Namun, bisa juga bukan. Satu-satunya cara untuk tahu adalah memeriksakannya.

Kanker yang tumbuh perlahan dari polip

Menurut WHO, kanker usus besar adalah kanker ketiga tersering di dunia dan penyebab kematian akibat kanker kedua tersering. Kebanyakan terjadi setelah usia 50 tahun, tetapi di beberapa negara kasusnya meningkat pada orang dewasa yang lebih muda.

Menurut artikel Kemenkes, kanker ini biasanya berawal dari polip, yaitu tumor jinak di dinding usus yang terbentuk akibat paparan faktor pemicu dalam waktu lama. Bila dibiarkan, polip dapat berkembang menjadi kanker. Inilah kabar baiknya: WHO menyebut skrining teratur dapat menemukan dan mengangkat lesi prakanker, sehingga kanker bisa dicegah. Skrining juga terbukti menurunkan jumlah kasus dan kematian. Tindakan pengangkatan polip disebut polipektomi. Bila kanker sudah terbentuk, WHO menyebut pengobatan lebih mungkin menyembuhkan bila ditemukan pada tahap awal.

Mengapa tidak boleh menunggu gejala

Menurut WHO, pada tahap awal kanker usus besar sering tanpa gejala atau gejalanya ringan. Bila muncul, gejalanya dapat berupa:

  • darah di tinja, merah terang atau gelap seperti aspal;
  • perubahan pola buang air besar, seperti diare, sembelit, atau tinja mengecil;
  • kram, nyeri, atau kembung perut yang tidak kunjung hilang;
  • berat badan turun tanpa sebab;
  • lelah terus-menerus dan kurang darah akibat perdarahan menahun.

Artikel Ayo Sehat Kemenkes mengingatkan bahwa berak darah kerap dianggap sekadar wasir, padahal bisa menjadi tanda masalah serius, termasuk kanker usus besar. Jangan menunda pemeriksaan, sekecil apa pun jumlah darahnya.

Pilihan skrining

Dalam Cek Kesehatan Gratis, deteksi dini kanker usus dilakukan mulai usia 45 tahun. Menurut Ayo Sehat, pilihan skrining meliputi:

  • tes tinja (tes imunokimia feses) setiap tahun;
  • sigmoidoskopi fleksibel setiap 5 tahun;
  • kolonoskopi setiap 10 tahun, yaitu pemeriksaan bagian dalam usus dengan alat seperti teropong yang dimasukkan melalui anus.

Bila ada keluarga yang pernah terkena kanker usus atau polip, skrining mungkin perlu dimulai lebih awal. Bicarakan dengan dokter.

Jangan salah paham

"Tidak ada keluhan, berarti usus saya sehat." Justru karena tahap awal sering tanpa gejala, skrining diperlukan.

"Kanker usus hanya menyerang orang tua." Risikonya memang meningkat setelah 50 tahun, tetapi WHO mencatat kasus pada usia lebih muda meningkat di beberapa negara.

Peran keluarga

Pola makan keluarga ikut menentukan risiko. Menurut WHO dan Kemenkes, perbanyak sayur, buah, dan makanan berserat, kurangi daging merah dan daging olahan seperti sosis dan kornet, aktif bergerak, jaga berat badan, serta hindari rokok dan alkohol.

Bila ada anggota keluarga yang mengalami perdarahan banyak dari anus, pucat, pusing, atau pingsan, segera bawa ke fasilitas kesehatan.

Ingat 3 hal ini

  1. Darah di tinja jangan langsung dianggap wasir; periksakan.
  2. Kanker usus berawal dari polip, dan skrining bisa mengangkatnya sebelum menjadi kanker.
  3. Mulai usia 45 tahun, ikuti deteksi dini kanker usus melalui CKG.

Bagikan bacaan ini kepada keluarga Anda yang berusia 45 tahun ke atas, terutama yang punya riwayat kanker usus dalam keluarga.

Daftar Pustaka

  1. World Health Organization. Colorectal cancer. Fact sheet, 13 Februari 2026.
  2. Kementerian Kesehatan RI. Berak darah: sinyal tubuh yang tidak boleh diabaikan. Ayo Sehat, 11 Agustus 2025.
  3. Kementerian Kesehatan RI, Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan. Lebih dalam mengenal kanker usus besar (kolorektal). 28 Juni 2024.
  4. Kementerian Kesehatan RI. Cek Kesehatan Gratis: ini manfaat dan jenis pemeriksaan yang kamu dapatkan. Ayo Sehat, 4 Februari 2025.
Untuk membantu Anda memahami kesehatan.

Materi edukasi umum. Informasi ini tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, atau pengobatan oleh tenaga kesehatan. Jika mengalami keadaan darurat, cari pertolongan langsung.

Ringkasan keselamatan
  • Perdarahan banyak dari anus, wajah pucat, pusing, atau pingsan memerlukan pertolongan segera di fasilitas kesehatan.
  • Darah di tinja, perubahan pola buang air besar, tinja mengecil, nyeri atau kembung perut yang tidak hilang, berat badan turun tanpa sebab, dan lelah terus-menerus perlu segera diperiksakan.
Tentang naskah ini

Kenali koleksi dan sumber bacaan.

Koleksi Bacaan Cepat Dokter Erta. Naskah sumber diperbarui 7 Oktober 2026; diterbitkan di website Klinik Kiera pada 11 Oktober 2026. Daftar pustaka di atas mengikuti naskah sumber.

Lanjutkan rasa ingin tahu

Bacaan terkait.

Semua bacaan di topik ini
Pencegahan, skrining, dan pemeriksaan rutin

Tahun Lalu Hasilnya Normal, Perlukah Cek Kesehatan Gratis Lagi? Apa Saja yang Diperiksa dan Mengapa Perlu Setiap Tahun

Cek Kesehatan Gratis (CKG) dari Kemenkes dapat diikuti setahun sekali oleh semua usia dengan pemeriksaan yang disesuaikan usia, mulai dari tekanan darah, gula darah, dan status gizi hingga skrining kanker dan pemeriksaan lansia, dan perlu diulang setiap tahun karena pada 2026 sekitar satu juta peserta yang tahun sebelumnya sehat kini terdeteksi hipertensi, sementara temuan pemeriksaan ditindaklanjuti dengan edukasi, pengobatan, dan rujukan.

3 menit bacaBaca artikel
Pencegahan, skrining, dan pemeriksaan rutin

Perokok Berusia 45 Tahun ke Atas Perlu Tahu Skrining Kanker Paru: Siapa yang Berisiko Tinggi dan Apa Itu CT Dosis Rendah

Kanker paru adalah penyebab kematian akibat kanker tertinggi di dunia dan di Indonesia sering baru ditemukan pada stadium lanjut, sehingga orang berisiko tinggi, terutama perokok dan bekas perokok berusia di atas 45 tahun, perlu mengenal skrining dengan CT dosis rendah, mengikuti deteksi dini melalui CKG, dan tetap menjadikan berhenti merokok sebagai pencegahan terbaik.

3 menit bacaBaca artikel
Pencegahan, skrining, dan pemeriksaan rutin

Skrining Kanker Leher Rahim Kini Bisa dengan Tes DNA HPV, Bahkan Ambil Sampel Sendiri: Siapa, Kapan, dan Mengapa Penting

Kanker leher rahim sebagian besar dapat dicegah karena berkembang perlahan selama 15 sampai 20 tahun dari infeksi HPV yang menetap, sehingga perempuan dianjurkan skrining mulai usia 30 tahun dengan tes DNA HPV yang kini tersedia dalam Cek Kesehatan Gratis, termasuk pengambilan sampel mandiri, dan hasil positif ditindaklanjuti dengan pengobatan prakanker yang sederhana di puskesmas.

3 menit bacaBaca artikel

Mari mulai dari percakapan.

Admin kami membantu Anda memilih layanan dan mengonfirmasi jadwal kunjungan.

Hubungi admin