Bandung Barat · Solusi sehat keluarga AndaPendaftaran 0812 2200 2500

Pencegahan, skrining, dan pemeriksaan rutin

Perokok Berusia 45 Tahun ke Atas Perlu Tahu Skrining Kanker Paru: Siapa yang Berisiko Tinggi dan Apa Itu CT Dosis Rendah

Kanker paru adalah penyebab kematian akibat kanker tertinggi di dunia dan di Indonesia sering baru ditemukan pada stadium lanjut, sehingga orang berisiko tinggi, terutama perokok dan bekas perokok berusia di atas 45 tahun, perlu mengenal skrining dengan CT dosis rendah, mengikuti deteksi dini melalui CKG, dan tetap menjadikan berhenti merokok sebagai pencegahan terbaik.

Daftar isi bacaan
  1. Mengapa kanker paru perlu diwaspadai
  2. Skrining dan deteksi dini: apa bedanya
  3. Siapa yang termasuk berisiko tinggi
  4. Apa itu CT dosis rendah
  5. Jangan salah paham
  6. Gejala yang perlu segera diperiksa
  7. Peran keluarga
  8. Ingat 3 hal ini
  9. Daftar Pustaka
  10. Bacaan terkait

Bayangkan seorang bapak berusia 55 tahun yang sudah merokok sejak SMA. Setiap pagi ia batuk-batuk, tetapi ia menganggapnya hal biasa. "Namanya juga perokok," katanya sambil tertawa.

Batuk seperti itu memang sering dianggap wajar. Namun, di balik kebiasaan yang terasa biasa, kanker paru bisa tumbuh diam-diam.

Mengapa kanker paru perlu diwaspadai

Menurut WHO, kanker paru adalah penyebab kematian akibat kanker tertinggi di dunia, dengan sekitar 1,8 juta kematian pada 2022. Sekitar 60 sampai 70% kasusnya berkaitan dengan merokok. Di Indonesia, menurut artikel Kemenkes, kanker paru adalah kanker terbanyak pada laki-laki dan sering baru terdiagnosis pada stadium lanjut.

Kanker paru terjadi saat sel di paru tumbuh tidak terkendali. Menurut artikel Kemenkes, asap rokok mengandung lebih dari 63 zat yang bersifat penyebab kanker. Masalahnya, WHO menyebut gejala awal sering ringan atau dianggap gangguan napas biasa, sehingga diagnosis terlambat.

Skrining dan deteksi dini: apa bedanya

Menurut artikel Kemenkes, ada dua langkah berbeda:

  • Skrining dilakukan pada orang tanpa gejala yang berisiko tinggi.
  • Deteksi dini dilakukan pada orang berisiko yang sudah bergejala, melalui pemeriksaan oleh dokter.

Spesialis paru yang dikutip Kemenkes menyebut skrining dan deteksi dini dapat menurunkan risiko kematian hingga 15 sampai 20 persen.

Siapa yang termasuk berisiko tinggi

Menurut artikel Kemenkes, kelompok berisiko tinggi antara lain:

  • berusia di atas 45 tahun dan merupakan perokok aktif maupun pasif;
  • berusia 40 tahun ke atas dengan riwayat kanker paru di keluarga;
  • bekerja dengan paparan zat tertentu, misalnya asbes atau silika.

Kriteria persisnya dapat berbeda antarpedoman. Misalnya, ada kriteria yang memakai usia 50 sampai 80 tahun dengan riwayat merokok berat. Karena itu, biarkan dokter yang menilai.

Apa itu CT dosis rendah

Skrining kanker paru dilakukan dengan CT dosis rendah, yaitu pemindaian dada dengan dosis radiasi yang lebih kecil, setiap 2 tahun. Menurut WHO, skrining pada kelompok berisiko tinggi terbukti menurunkan kematian bila disertai mutu dan tindak lanjut yang baik.

Tujuannya adalah menemukan kanker yang masih kecil, belum lama tumbuh, dan belum menyebar. Menurut WHO, kanker paru stadium awal yang masih terbatas di paru dapat diobati terutama dengan operasi pengangkatan tumor.

Di Indonesia, deteksi dini kanker paru termasuk dalam Cek Kesehatan Gratis mulai usia 45 tahun. Ceritakan riwayat merokok Anda dengan jujur kepada petugas.

Jangan salah paham

"Sudah terlanjur lama merokok, berhenti tidak ada gunanya." WHO menegaskan tidak merokok adalah cara terbaik mencegah kanker paru. Skrining tidak menggantikan berhenti merokok.

"Yang berisiko hanya perokok." Asap rokok orang lain, polusi udara, dan paparan kerja juga meningkatkan risiko.

Gejala yang perlu segera diperiksa

Batuk yang tidak kunjung sembuh, batuk darah, sesak napas, nyeri dada, suara serak, berat badan turun tanpa sebab, nyeri tulang, atau infeksi paru yang berulang.

Peran keluarga

Dukung anggota keluarga untuk berhenti merokok dan jadikan rumah bebas asap rokok.

Ingat 3 hal ini

  1. Batuk perokok yang tidak sembuh tetap perlu diperiksa.
  2. Perokok berusia di atas 45 tahun sebaiknya menanyakan skrining kanker paru.
  3. Berhenti merokok tetap langkah pencegahan terbaik.

Bagikan bacaan ini kepada keluarga atau teman yang merokok, atau yang sudah berhenti merokok.

Daftar Pustaka

  1. World Health Organization. Lung cancer. Fact sheet, 16 April 2026.
  2. Kementerian Kesehatan RI, Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan. Bagaimana kanker paru dapat diketahui lebih awal sebelum stadium lanjut? 20 September 2022.
  3. Kementerian Kesehatan RI, Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan. World Lung Day, skrining dan deteksi dini cegah kanker paru. 24 September 2024.
  4. Kementerian Kesehatan RI. Cek Kesehatan Gratis: ini manfaat dan jenis pemeriksaan yang kamu dapatkan. Ayo Sehat, 4 Februari 2025.
Untuk membantu Anda memahami kesehatan.

Materi edukasi umum. Informasi ini tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, atau pengobatan oleh tenaga kesehatan. Jika mengalami keadaan darurat, cari pertolongan langsung.

Ringkasan keselamatan
  • Batuk yang tidak kunjung sembuh, batuk darah, sesak napas, nyeri dada, suara serak, berat badan turun tanpa sebab, nyeri tulang, dan infeksi paru yang berulang perlu segera diperiksakan.
Tentang naskah ini

Kenali koleksi dan sumber bacaan.

Koleksi Bacaan Cepat Dokter Erta. Naskah sumber diperbarui 7 Oktober 2026; diterbitkan di website Klinik Kiera pada 11 Oktober 2026. Daftar pustaka di atas mengikuti naskah sumber.

Lanjutkan rasa ingin tahu

Bacaan terkait.

Semua bacaan di topik ini
Pencegahan, skrining, dan pemeriksaan rutin

Benjolan di Payudara yang Tidak Nyeri Tetap Perlu Diperiksa: SADARI Setiap Bulan, SADANIS di Puskesmas, dan Peran Mamografi

Kanker payudara adalah kanker penyebab kematian tertinggi pada perempuan Indonesia dan sebagian besar baru ditemukan pada stadium lanjut, padahal benjolan kanker sering tidak nyeri, sehingga perempuan perlu mengenali payudaranya lewat SADARI setiap bulan, mengikuti SADANIS oleh tenaga kesehatan, termasuk melalui Cek Kesehatan Gratis mulai usia 30 tahun, dan segera memeriksakan setiap perubahan.

3 menit bacaBaca artikel
Pencegahan, skrining, dan pemeriksaan rutin

Skrining Kanker Leher Rahim Kini Bisa dengan Tes DNA HPV, Bahkan Ambil Sampel Sendiri: Siapa, Kapan, dan Mengapa Penting

Kanker leher rahim sebagian besar dapat dicegah karena berkembang perlahan selama 15 sampai 20 tahun dari infeksi HPV yang menetap, sehingga perempuan dianjurkan skrining mulai usia 30 tahun dengan tes DNA HPV yang kini tersedia dalam Cek Kesehatan Gratis, termasuk pengambilan sampel mandiri, dan hasil positif ditindaklanjuti dengan pengobatan prakanker yang sederhana di puskesmas.

3 menit bacaBaca artikel

Mari mulai dari percakapan.

Admin kami membantu Anda memilih layanan dan mengonfirmasi jadwal kunjungan.

Hubungi admin