Bandung Barat · Solusi sehat keluarga AndaPendaftaran 0812 2200 2500

Pencegahan, skrining, dan pemeriksaan rutin

Bercak Putih atau Kemerahan yang Mati Rasa Jangan Disangka Panu: Kenali Kusta, Penyakit yang Bisa Sembuh dengan Obat Gratis

Kusta disebabkan bakteri, bukan kutukan atau keturunan, dan tanda awalnya sering berupa bercak putih atau kemerahan yang mati rasa yang mudah disangka panu, padahal bila ditemukan dini kusta dapat disembuhkan dengan obat gratis di puskesmas selama 6 sampai 12 bulan, penularan berhenti setelah pengobatan dimulai, dan kecacatan dapat dicegah.

Daftar isi bacaan
  1. Kusta bukan kutukan
  2. Kenali tanda awalnya
  3. Bagaimana kusta menular
  4. Bisa sembuh, obatnya gratis
  5. Jangan salah paham
  6. Peran keluarga
  7. Ingat 3 hal ini
  8. Daftar Pustaka
  9. Bacaan terkait

Bayangkan seorang pemuda yang punya bercak keputihan di lengannya sejak berbulan-bulan lalu. Tidak gatal, tidak sakit, jadi ia menganggapnya panu dan mengoleskan salep seadanya. Suatu hari ia tidak merasakan apa-apa saat lengannya tersentuh panci panas.

Bercak yang mati rasa seperti ini perlu diperiksakan. Bisa jadi itu tanda awal kusta.

Kusta bukan kutukan

Menurut Kemenkes, kusta disebabkan oleh bakteri, bukan kutukan dan bukan penyakit keturunan. Bakteri ini menyerang kulit dan saraf tepi. Bila tidak diobati, kerusakan saraf dapat menimbulkan kecacatan permanen, misalnya jari bengkok, kelumpuhan tangan dan kaki, hingga kelopak mata yang tidak bisa menutup.

Menurut WHO, Indonesia termasuk tiga negara dengan lebih dari 10.000 kasus baru pada 2024, bersama Brasil dan India. Indonesia masih menemukan sekitar 14 sampai 15 ribu kasus baru setiap tahun, dan menurut Kemenkes jumlah sebenarnya diperkirakan lebih tinggi. Tantangan terbesar adalah banyak penderita baru datang setelah cacat.

Kenali tanda awalnya

Menurut WHO dan Kemenkes, tandanya antara lain:

  • bercak putih atau kemerahan yang mati rasa;
  • mati rasa di telapak tangan atau kaki;
  • kelemahan atau kelumpuhan tangan dan kaki;
  • kulit kering dan tidak berkeringat;
  • kadang benjolan di wajah, telinga, lengan, atau badan;
  • pada mata, kedipan berkurang dan kelopak tidak menutup rapat.

Menurut Kemenkes, kelainan kulit kusta mirip panu, kurap, atau kaligata. Karena bercaknya tidak gatal dan tidak sakit, banyak orang menganggapnya biasa.

Bagaimana kusta menular

Menurut WHO, kusta menular melalui percikan dari hidung dan mulut penderita yang belum diobati, setelah kontak dekat dan lama. Kusta tidak menular melalui berjabat tangan, berpelukan, makan bersama, atau duduk bersebelahan. Masa inkubasinya panjang, rata-rata 3 sampai 5 tahun. Seorang dokter kulit yang dikutip Kemenkes menegaskan: kusta memang menular, tetapi tidak mudah menular.

Yang terpenting, menurut Kemenkes, sekali pasien mulai minum obat, ia tidak lagi menularkan penyakit.

Bisa sembuh, obatnya gratis

Kusta diobati dengan kombinasi tiga obat, selama 6 bulan untuk tipe sedikit kuman atau 12 bulan untuk tipe banyak kuman. Obatnya gratis di puskesmas. Menurut Kemenkes, tujuan pengobatan adalah memutus rantai penularan, mencegah cacat atau agar cacat tidak berlanjut, dan memperbaiki kualitas hidup. Karena itu, pengobatan dini sangat berarti.

Kemenkes juga memperkuat skrining kusta melalui Cek Kesehatan Gratis. WHO menganjurkan pemeriksaan bagi kontak serumah dan sekitar penderita, disertai obat pencegahan dosis tunggal.

Jangan salah paham

"Kusta itu kutukan atau turunan." Penyebabnya bakteri, dan dapat disembuhkan.

"Kusta pasti cacat." Bila ditemukan dan diobati dini, kecacatan dapat dicegah.

Peran keluarga

Bila ada anggota keluarga yang terkena kusta, dampingi ia minum obat sampai tuntas, ikutlah diperiksa, dan tanyakan pencegahan bagi kontak erat. Jangan menjauhi atau mengucilkan penderita. Kemenkes mengajak masyarakat untuk tidak takut memeriksakan diri bila menemukan gejala, dan ikut menghapus stigma agar penderita cepat berobat sampai tuntas.

Ingat 3 hal ini

  1. Bercak kulit yang mati rasa perlu diperiksakan, jangan dianggap panu.
  2. Kusta bisa sembuh dengan obat gratis yang diminum sampai tuntas.
  3. Setelah mulai berobat, penderita tidak lagi menularkan; jangan dikucilkan.

Bagikan bacaan ini kepada keluarga dan tetangga, agar tidak ada lagi yang takut memeriksakan bercak kulitnya.

Daftar Pustaka

  1. World Health Organization. Leprosy. Fact sheet, 23 Januari 2026.
  2. Kementerian Kesehatan RI. Kusta bisa sembuh, temukan dini dan obati sampai tuntas. Rilis berita, 11 Maret 2026.
  3. Kementerian Kesehatan RI. Indonesia percepat eliminasi kusta lewat penemuan kasus aktif dan kolaborasi lintas sektor. Rilis berita, 10 Juli 2026.
  4. Kementerian Kesehatan RI. Waspada kusta, kenali cirinya. Rilis berita, 7 Februari 2019.
Untuk membantu Anda memahami kesehatan.

Materi edukasi umum. Informasi ini tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, atau pengobatan oleh tenaga kesehatan. Jika mengalami keadaan darurat, cari pertolongan langsung.

Ringkasan keselamatan
  • Bercak putih atau kemerahan yang mati rasa, mati rasa pada telapak tangan atau kaki, kelemahan tangan atau kaki, kulit kering tidak berkeringat, benjolan di wajah atau telinga, dan kelopak mata yang tidak menutup rapat perlu segera diperiksakan.
Tentang naskah ini

Kenali koleksi dan sumber bacaan.

Koleksi Bacaan Cepat Dokter Erta. Naskah sumber diperbarui 7 Oktober 2026; diterbitkan di website Klinik Kiera pada 11 Oktober 2026. Daftar pustaka di atas mengikuti naskah sumber.

Lanjutkan rasa ingin tahu

Bacaan terkait.

Semua bacaan di topik ini
Pencegahan, skrining, dan pemeriksaan rutin

Benjolan di Payudara yang Tidak Nyeri Tetap Perlu Diperiksa: SADARI Setiap Bulan, SADANIS di Puskesmas, dan Peran Mamografi

Kanker payudara adalah kanker penyebab kematian tertinggi pada perempuan Indonesia dan sebagian besar baru ditemukan pada stadium lanjut, padahal benjolan kanker sering tidak nyeri, sehingga perempuan perlu mengenali payudaranya lewat SADARI setiap bulan, mengikuti SADANIS oleh tenaga kesehatan, termasuk melalui Cek Kesehatan Gratis mulai usia 30 tahun, dan segera memeriksakan setiap perubahan.

3 menit bacaBaca artikel
Pencegahan, skrining, dan pemeriksaan rutin

Tahun Lalu Hasilnya Normal, Perlukah Cek Kesehatan Gratis Lagi? Apa Saja yang Diperiksa dan Mengapa Perlu Setiap Tahun

Cek Kesehatan Gratis (CKG) dari Kemenkes dapat diikuti setahun sekali oleh semua usia dengan pemeriksaan yang disesuaikan usia, mulai dari tekanan darah, gula darah, dan status gizi hingga skrining kanker dan pemeriksaan lansia, dan perlu diulang setiap tahun karena pada 2026 sekitar satu juta peserta yang tahun sebelumnya sehat kini terdeteksi hipertensi, sementara temuan pemeriksaan ditindaklanjuti dengan edukasi, pengobatan, dan rujukan.

3 menit bacaBaca artikel
Pencegahan, skrining, dan pemeriksaan rutin

Anak Ikut Cek Kesehatan Gratis di Sekolah? Isi Kuesionernya, Tanyakan Hasilnya, dan Tindak Lanjuti Temuannya

Cek Kesehatan Gratis di sekolah memeriksa anak usia 7 sampai 17 tahun, mulai dari gizi, tekanan darah, gigi, mata, telinga, hingga kesehatan jiwa dan anemia sesuai jenjang, tetapi manfaatnya baru terasa bila orang tua ikut mengisi kuesioner, menanyakan hasilnya, dan membawa anak ke puskesmas bila ada temuan yang perlu ditindaklanjuti.

3 menit bacaBaca artikel

Mari mulai dari percakapan.

Admin kami membantu Anda memilih layanan dan mengonfirmasi jadwal kunjungan.

Hubungi admin