Bandung Barat · Solusi sehat keluarga AndaPendaftaran 0812 2200 2500

Aktivitas fisik dan kebugaran

Penyandang Disabilitas dan Penyakit Kronis Tetap Bisa Aktif: Panduan yang Sering Terlupakan

Pedoman WHO 2020 berlaku juga bagi penyandang disabilitas dan penyakit kronis: aktif sesuai kemampuan tetap memberi manfaat besar, risikonya kecil bila jenis dan takarannya disesuaikan, dan sedikit aktivitas lebih baik daripada tidak sama sekali.

Daftar isi bacaan
  1. Anjuran yang berlaku untuk semua orang
  2. Mengapa justru lebih penting?
  3. Apakah aman?
  4. Untuk anak penyandang disabilitas
  5. Jangan salah paham
  6. Kapan perlu bantuan?
  7. Peran keluarga
  8. Ingat 3 hal ini
  9. Daftar Pustaka
  10. Bacaan terkait

Bayangkan seorang pemuda pengguna kursi roda setelah kecelakaan. Keluarganya sangat menyayanginya, sehingga semua kebutuhannya dilayani dan ia hampir tidak pernah diajak bergerak. "Biar tidak capek," kata ibunya. Bertahun-tahun kemudian, berat badannya naik dan ia mulai mudah murung.

Kasih sayang yang tulus, tetapi arahnya perlu disesuaikan.

Anjuran yang berlaku untuk semua orang

Pedoman WHO tahun 2020 untuk pertama kalinya memuat anjuran khusus bagi penyandang disabilitas dan orang dengan penyakit kronis. Intinya, anjuran aktivitas fisik berlaku untuk semua kemampuan. Orang dewasa, termasuk penyandang disabilitas dan penyakit kronis, dianjurkan:

  • 150 sampai 300 menit aktivitas sedang per minggu, atau 75 sampai 150 menit aktivitas berat;
  • latihan penguatan otot;
  • mengurangi waktu duduk.

Yang terpenting, WHO meminta anjuran ini dicapai sebisa mungkin sesuai kemampuan, karena sedikit aktivitas tetap lebih baik daripada tidak sama sekali.

Mengapa justru lebih penting?

WHO mencatat sekitar 1,3 miliar orang, atau 1 dari 6 penduduk dunia, hidup dengan disabilitas yang bermakna. Mereka memiliki risiko dua kali lipat mengalami depresi, asma, diabetes, stroke, obesitas, dan kesehatan mulut yang buruk. Menurut WHO, aktivitas fisik pada orang dewasa membantu menurunkan risiko hipertensi dan diabetes tipe 2, serta memperbaiki kesehatan mental, daya pikir, dan tidur.

Ibaratnya, tubuh setiap orang tetap butuh "dirawat" lewat gerak, hanya cara merawatnya yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing.

Apakah aman?

WHO menyebut tidak ada risiko besar bagi penyandang disabilitas untuk beraktivitas fisik, selama jenis dan takarannya sesuai dengan tingkat aktivitas saat ini, kondisi kesehatan, dan fungsi fisiknya. Dalam kondisi itu, manfaatnya lebih besar daripada risikonya. Sebagian orang mungkin perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan atau spesialis aktivitas fisik dan disabilitas untuk menentukan jenis dan jumlah yang tepat.

Untuk anak penyandang disabilitas

  • NHS menganjurkan anak dan remaja penyandang disabilitas beraktivitas sekitar 20 menit sehari, boleh dibagi menjadi sesi-sesi pendek, ditambah latihan kekuatan dan keseimbangan yang menantang tetapi terjangkau 3 kali seminggu.
  • Untuk bayi dan balita dengan penyakit jangka panjang atau disabilitas, NHS menyebut mereka tetap perlu aktif, kecuali tim kesehatan memberi saran berbeda. Aktif membantu perkembangan, kesejahteraan mental, dan rasa percaya diri.

Jangan salah paham

"Kalau tidak bisa 150 menit, percuma." Tidak. WHO menegaskan sedikit tetap lebih baik daripada tidak sama sekali. Mulailah dari yang mampu dilakukan, misalnya latihan lengan sambil duduk, berenang, atau berjalan dengan alat bantu, lalu tambah perlahan.

Kapan perlu bantuan?

Bila muncul keluhan baru yang mengkhawatirkan saat beraktivitas, hentikan dan minta saran tenaga kesehatan sebelum melanjutkan. Bila ragu tentang jenis latihan yang aman untuk kondisi Anda, minta saran dokter atau fisioterapis sejak awal.

Peran keluarga

WHO mencatat hambatan seperti transportasi yang tidak ramah disabilitas, stigma, dan diskriminasi sering membuat penyandang disabilitas sulit mengakses layanan dan kegiatan. Keluarga bisa membantu dengan mendampingi ke tempat latihan yang aksesibel, mencarikan komunitas olahraga yang inklusif, dan memberi kesempatan untuk mandiri alih-alih melayani semua kebutuhan.

Ingat 3 hal ini

  1. Anjuran aktivitas fisik WHO berlaku untuk semua kemampuan, sesuai kondisi masing-masing.
  2. Bila disesuaikan, manfaat aktivitas fisik bagi penyandang disabilitas lebih besar daripada risikonya.
  3. Sedikit aktivitas lebih baik daripada tidak sama sekali; mulai dari yang mampu dan tambah perlahan.

Bagikan bacaan ini kepada keluarga dan pendamping penyandang disabilitas agar mereka juga bisa aktif bergerak dengan aman.

Daftar Pustaka

  1. Bull FC, Al-Ansari SS, Biddle S, et al. World Health Organization 2020 guidelines on physical activity and sedentary behaviour. Br J Sports Med. 2020;54(24):1451-1462.
  2. World Health Organization. Disability and health. Fact Sheet. 7 March 2023.
  3. NHS. Physical activity guidelines for children and young people. Page last reviewed 23 October 2024.
  4. NHS. Physical activity guidelines for children (under 5 years). Page last reviewed 27 October 2025.
Untuk membantu Anda memahami kesehatan.

Materi edukasi umum. Informasi ini tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, atau pengobatan oleh tenaga kesehatan. Jika mengalami keadaan darurat, cari pertolongan langsung.

Ringkasan keselamatan
  • Bila muncul keluhan baru yang mengkhawatirkan saat beraktivitas, hentikan dan minta saran tenaga kesehatan sebelum melanjutkan.
Tentang naskah ini

Kenali koleksi dan sumber bacaan.

Koleksi Bacaan Cepat Dokter Erta. Naskah sumber diperbarui 7 Oktober 2026; diterbitkan di website Klinik Kiera pada 11 Oktober 2026. Daftar pustaka di atas mengikuti naskah sumber.

Mari mulai dari percakapan.

Admin kami membantu Anda memilih layanan dan mengonfirmasi jadwal kunjungan.

Hubungi admin