Gula Darah Tinggi Bukan Cuma Soal Kebanyakan Makan Manis
Diabetes tipe 2 terjadi karena gangguan penggunaan dan produksi insulin, bukan semata-mata karena seseorang suka makanan manis, dan risikonya sering berjalan dalam keluarga.
Pustaka Bacaan Cepat Dokter Erta
34 bacaan untuk memahami penyakit metabolik & kronis.
Diabetes tipe 2 terjadi karena gangguan penggunaan dan produksi insulin, bukan semata-mata karena seseorang suka makanan manis, dan risikonya sering berjalan dalam keluarga.
Penyakit ginjal kronik sering tidak bergejala; pemeriksaan eGFR dan albumin urin membantu mendeteksi kerusakan sebelum gejala berat muncul, terutama pada penyandang diabetes, hipertensi, dan keluarganya.
HbA1c menggambarkan rata-rata paparan glukosa selama beberapa bulan, tetapi tidak menunjukkan seluruh naik-turunnya gula, kejadian hipoglikemia, atau pola harian.
Pola makan diabetes tidak harus menghilangkan karbohidrat; yang lebih penting adalah porsi, kualitas, pembagian waktu makan, minuman manis, dan kesesuaian dengan terapi.
Olahraga membantu kontrol glukosa dan menurunkan risiko jantung-metabolik, tetapi pengguna insulin atau obat pemicu hipoglikemia perlu merencanakan pemantauan dan pencegahan gula rendah.
Frekuensi cek gula harus disesuaikan dengan terapi dan tujuan; CGM membantu melihat pola, tetapi glukometer tusuk jari tetap diperlukan sebagai cadangan dan CGM belum dipakai untuk diagnosis.
Hipoglikemia <70 mg/dL perlu ditangani cepat; pasien yang sadar biasanya diberi karbohidrat cepat dalam jumlah terukur, sedangkan pasien tidak sadar tidak boleh diberi makanan lewat mulut.
Pemilihan obat diabetes tipe 2 kini mempertimbangkan risiko jantung, gagal jantung, ginjal, berat badan, hipoglikemia, biaya, dan preferensi pasien, bukan HbA1c saja.
Saat sakit, pasien diabetes dapat mengalami gula terlalu tinggi, terlalu rendah, kekurangan cairan, dan ketoasidosis; pemantauan gula, keton, cairan, serta aturan obat perlu direncanakan sebelumnya.
Skrining penyakit ginjal pada diabetes memerlukan eGFR dan UACR; pada diabetes tipe 2 keduanya dinilai setidaknya setiap tahun walaupun tanpa gejala.
Retinopati diabetik dapat berkembang tanpa gejala; pada diabetes tipe 2 pemeriksaan mata lengkap dimulai saat diagnosis, lalu jadwal berikutnya disesuaikan dengan hasil dan risiko.
Kerusakan saraf akibat diabetes dapat menghilangkan rasa nyeri sehingga luka kaki tidak disadari; pemeriksaan rutin dan memeriksa kaki setiap hari membantu mencegah luka kronis dan amputasi.
Kontrol diabetes yang baik tidak berhenti pada HbA1c; tekanan darah, kolesterol LDL, rokok, ginjal, berat badan, aktivitas, dan pilihan obat pelindung jantung-ginjal ikut menentukan risiko jantung.
Kontrol diabetes yang lengkap mencakup pemantauan gula, tekanan darah, lemak darah, ginjal, mata, saraf, kaki, obat, kebiasaan hidup, kesehatan jiwa, vaksinasi, dan kesehatan gigi sesuai risiko.
Hasil ginjal yang berubah perlu dinilai sebagai tren, dikonfirmasi dengan sampel yang tepat, dan diperiksa lebih cepat bila ada kemungkinan gangguan akut.
Pada CKD, protein perlu diatur sesuai tahap penyakit dan status gizi; menghapus semua lauk dapat merugikan, sedangkan asupan tinggi juga tidak selalu aman.
Larangan buah pada CKD tidak berlaku seragam; kadar kalium, obat, porsi makanan, dan cara penyajian menentukan pilihan yang sesuai.
SGLT2 inhibitor dapat melindungi ginjal pada sebagian pasien CKD tanpa diabetes, tetapi pemilihannya tetap bergantung pada fungsi ginjal, albuminuria, dan keamanan.
Pada CKD, obat bebas dan herbal perlu ikut diperiksa karena dapat memengaruhi aliran darah ginjal, menumpuk, atau berinteraksi dengan terapi rutin.
Pada penyakit ginjal kronik (CKD), pembatasan natrium sering bermanfaat, tetapi pembatasan cairan tidak otomatis diperlukan pada semua pasien; kebutuhan cairan harus disesuaikan dengan tahap penyakit, jumlah urin, bengkak, gagal jantung, dan cuci darah.
Kurang darah (anemia) makin sering ditemukan saat penyakit ginjal kronik memburuk; penyebabnya dapat melibatkan berkurangnya hormon eritropoietin, kekurangan zat besi, peradangan, perdarahan, dan sebab lain, sehingga evaluasinya tidak cukup hanya melihat hemoglobin.
Pada penyakit ginjal kronik tahap G3–G5, KDIGO merekomendasikan rumus risiko yang sudah divalidasi, seperti KFRE, untuk memperkirakan risiko gagal ginjal; angka risiko membantu menentukan waktu rujukan ke dokter spesialis ginjal dan perencanaan cuci darah atau transplantasi.
Kadar asam urat bisa tampak normal saat serangan gout, sementara kadar tinggi juga tidak otomatis berarti gout; diagnosis harus mempertimbangkan pola keluhan dan kadang pemeriksaan cairan sendi.
Serangan gout perlu diredakan cepat dengan obat antiradang yang aman, sementara obat penurun asam urat yang sudah rutin diminum, seperti allopurinol, umumnya tidak boleh dihentikan sendiri.
Belum ada bacaan yang cocok. Coba kata kunci lain atau pilih semua topik.
Koleksi edukasi umum dari Bacaan Cepat Dokter Erta. Daftar pustaka tersedia di setiap artikel. Untuk diagnosis dan pengobatan, diskusikan kondisi Anda dengan tenaga kesehatan.
Jelajahi arsip artikel Kiera sebelumnyaAdmin kami membantu Anda memilih layanan dan mengonfirmasi jadwal kunjungan.